Nusantara

Korban Banjir Aceh Mulai Sakit

Jum'at, 8 December 2017 05:06 WIB Penulis: Ferdian Ananda Majni ferdian@mediaindonesia.com

ANTARA FOTO/Rahmad

SEBANYAK 33.110 jiwa korban banjir yang kini mengungsi di 88 titik wilayah Aceh Utara, Provinsi Aceh, mulai diserang penyakit. Hingga saat ini banjir masih menggenangi Kecamatan Lhoksukon dan Pirak Timu, sedangkan di Kecamatan Matangkuli mulai surut.
Aminullah, korban banjir di Aceh Utara yang kini tinggal di pengungsian, mengatakan para pengungsi mulai terserang demam, gatal-gatal, dan infeksi saluran pernapasan dalam tiga hari terakhir. “Kondisi pengungsi tidak tertangani maksimal karena stok obat untuk penyakit tersebut kurang. Pengungsinya banyak,” ujar Aminullah saat dihubungi lewat telepon, Kamis (7/12).

Apalagi ada beberapa titik yang masih kebanjiran sehingga banyak pengungsi yang tidak tinggal di posko pengungsian mulai kesulitan mendapatkan pengobatan.Kabag Humas Pemkab Aceh Utara, Teuku Nadirsyah, menjelaskan saat ini ada sebagian warga korban banjir meninggalkan posko pengungsian karena air surut. “Tapi untuk Kecamatan Lhoksukon, warga masih berada di pengungsian. Bahkan jumlahnya bertambah,” ujarnya. Banjir juga menyisakan kerugian cukup besar. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Aceh Utara, Munawar, memperkirakan kerugian akibat banjir mencapai Rp250 miliar.

“Kerusakan terparah ialah infrastruktur, di antaranya lima jembatan rusak dan rusaknya badan jalan hingga puluhan kilometer serta sejumlah tanggul hancur,” jelas Munawar. Dari Yogyakarta, pemerintah daerah setempat telah menghitung kerugian akibat badai Cempaka. Sekda Pemprov DIY, Gatot Saptadi, menyebutkan kerugian fisik akibat badai Cempaka sekitar Rp200 ­miliar. Perhitungan sementara kerugian di Kota Yogyakarta mencapai Rp13,945 miliar, di Kabupaten Bantul Rp102 miliar, di Kulonprogo Rp1,5 miliar, di Sleman Rp13,240 miliar, dan di Gunung Kidul Rp43,844 miliar.

Sigit menambahkan pi­haknya masih menunggu Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengenai apa saja bantuan yang didapat dari pemerintah pusat. Dari Jawa Timur, puluhan rumah di Desa Kertasada, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, dilanda luapan air laut (rob). Bencana rob menggenangi sedikitnya 60 rumah di tiga dusun. Sebaliknya di Jawa Barat, nelayan di pesisir pantai selatan Sukabumi kembali melaut. Pascarob beberapa hari lalu, kini gelombang laut kembali normal. “Gelombang laut sudah kembali normal. Nelayan sekarang sudah mulai melaut,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, Dadang Budiman.

Jumlah nelayan di Kabupaten Sukabumi saat ini sekitar 9.800 orang. Mereka mayoritas nelayan tradisional yang mencari ikan menggunakan kapal berkapasitas di bawah 5 GT. “Selama cuaca buruk mereka tidak melaut. Sekarang kondisi cuaca kembali normal, mereka boleh melaut,” tambahnya.

Bantuan benih
Di Jawa Tengah, korban banjir di Kabupaten Klaten, khususnya petani padi yang gagal tanam, akan mendapatkan bantuan benih. “Selain itu, kami akan memproses pengajuan klaim petani yang ikut asuransi usaha tani padi musim tanam I,” kata Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Klaten, Wahyu Prasetyo.

Pada bagian lain, kondisi Gunung Agung hingga kemarin sore masih mengepulkan asap putih keabu-abuan dengan ketinggian 1.000 hingga 2.000 meter di atas kawah. Status Gunung Agung juga masih awas karena aktivitas vulkanis masih tinggi walau fluktuatif.
“Ya, asap putih keabuan masih mengepul dengan ke-tinggian 1.000 hingga 2.000 meter dari kawah gunung,” ujar Kepala Bidang Mitigasi Gunung-api, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Gede Suantika. (AT/BB/MG/JS/RS/JL/AU/N-3)

Komentar