BIDASAN BAHASA

Yang Terlupakan

Ahad, 31 December 2017 07:29 WIB Penulis: RIDHA KUSUMA PERDANA Staf Bahasa Media Indonesia

seno

BAHASA adalah sistem bunyi oral yang arbitrer yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Bahasa dikatakan bersistem karena di dalamnya terdapat struktur yang mau tidak mau harus ada dan harus dipatuhi, baik itu bahasa lisan maupun tulisan. Struktur tersebut pun selalu ada dalam setiap cabang mikrolinguistik, yaitu dari segi fonologi (ilmu tentang bunyi), morfologi (pembentukan kata), sintaksis (pembentukan frasa dan kalimat), semantik (makna), dan bahkan wacana (struktur terbesar dalam bahasa). Dalam pembentukan kalimat, misalnya, ada beberapa unsur, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K), di antaranya keterangan tempat dan keterangan waktu.

Keempatnya memang tak harus selalu berjejer ada dalam sebuah kalimat. Namun, subjek dan predikat mutlak harus ada. Keduanya ialah unsur wajib dalam sebuah kalimat. Tanpa keduanya, kalimat tak dapat berdiri. Tanpa keduanya pula, yang terbentuk ialah frasa, bukan kalimat. Kalimat juga tak harus panjang. Selama ada subjek dan predikat, kalimat sudah dapat terbentuk. Misalnya, Wida memasak. Wida ialah subjek dan memasak ialah predikat. Namun, dalam praktiknya, ternyata masih banyak kalangan yang belum memahami atau keliru dalam membuat kalimat. Bahkan, kesalahan tersebut ditemukan di beberapa media cetak dan da ring, yang seharusnya tak lagi ada.

Kesalahan tersebut ialah ‘terlupakannya’ predikat dalam sebuah kalimat. Dikatakan terlupakan karena mungkin saja penulis tahu bahwa kalimat harus terdiri atas subjek dan predikat, tapi ia lupa atau malah menggunakan kelas kata yang sebenarnya tidak dapat menjadi predikat. Contoh kesalahan itu ialah ‘Dana desa itu untuk menunjang pembangunan infrastruktur desa’ dan ‘Iniesta sebagai kapten Barcelona yang jauh dari umpatan dan celaan sang rival’. Dalam kalimat pertama, kata untuk tidak dapat menjadi predikat. Sebabnya, kata untuk berkedudukan sebagai kata tugas, yaitu modalitas yang menjelaskan maksud dan tujuan suatu peristiwa atau tindakan. Padahal, predikat tidak dapat dibentuk dengan konjungsi.

Predikat harus terbentuk dari kata benda (nomina) atau kata kerja (verba). Karena itu, dalam kalimat pertama, pembenaran dapat dilakukan dengan menambahkan kata kerja pasif diberikan. Dengan demikian, kalimat yang benar ialah Dana desa itu diberikan untuk menunjang pembangunan infrastruktur desa. Sementara itu, pada kalimat kedua, kata sebagai juga tidak dapat berlaku sebagai predikat karena kelas kata sebagai ialah kata tugas (perbandingan), yaitu kata penghubung yang berfungsi menghubungkan dua hal dengan membandingkan kedua hal tersebut.

Karena itu, pembenaran pada kalimat kedua ialah kata sebagai diganti dengan kata kerja (verba) merupakan yang dapat berkedudukan sebagai predikat. Jadi, kalimat yang benar ialah Iniesta merupakan kapten Barcelona yang jauh dari umpatan dan celaan sang rival. Kesalahan-kesalahan tersebut memang terlihat sepele karena maksud kalimat tersebut tetap dapat dimengerti pembaca. Namun, kesalahan tersebut sebenarnya fatal karena struktur kalimat tidak terbentuk dan malah melahirkan kesalahan yang lain, yaitu munculnya bentuk konjungsi yang diberi afi ks yang seakan-akan juga dapat menjadi predikat, misalnya, dikarenakan.

Komentar