Humaniora

Majalah Playboy akan Setop Edisi Cetak

Rabu, 3 January 2018 12:25 WIB Penulis: Micom

AP Photo/ File

SETELAH berumur lebih dari enam dekade, majalah dewasa Playboy akhirnya akan menutup edisi cetaknya dalam waktu dekat. Playboy Enterprises Inc dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk membunuh majalah yang terkenal dengan gambar wanita-wanita bugil tersebut.

'Kematian' Playboy tersebut menyusul kepergian sang pemilik kerajaan penerbitan berbasis di Beverly Hills itu, Hugh Hefner, yang meninggal pada September 2017 lalu.

Seperti dilaporkan Wall Street Journal, Selasa (2/1), kematian Hefner telah memicu sebuah proses yang akan mengalihkan kepemilikan perusahaan dari keluarganya ke pemegang saham terbesar, yakni perusahaan ekuitas swasta Rizvi Traverse.

Ben Kohn, managing partner di Rizvi yang merupakan CEO Playboy Enterprises mengatakan ingin mengubah fokus perusahaan pada kemitraan merek dan kesepakatan perizinan.

"Kami ingin fokus pada apa yang kami sebut 'World of Playboy' yang jauh lebih besar daripada publikasi cetak lawas kecil," ungkap Kohn kepada the Journal.

"Kami berencana melakukan transisi pada tahun ini dari bisnis menengah ke perusahaan manajemen merek."

Playboy punya sejarah panjang sejak mulai diterbitkan pada 1953 lalu. Majalah yang digemari kaum lelaki itu pernah mencapai puncak peredaran sebanyak 5,6 juta eksemplar pada 1975. Namun beberapa tahun belakangan di tengah perjuangan di industri majalah cetak yang lebih berat, peredaran Playboy telah turun menjadi kurang dari 500 ribu eks.

The Journal menyebut majalah Playboy, yang menerbitkan enam isu dalam setahun, telah kehilangan sebanyak US$7 juta per tahun dalam beberapa tahun terakhir.

"Secara historis, kita bisa membenarkan kerugian karena nilai pemasarannya, tapi Anda juga harus berpikir ke depan," kata Kohn.

"Saya tidak yakin bahwa cetak adalah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan konsumen kami."

Pada 2016, Playboy sebetulnya pernah berhenti mempublikasikan foto perempuan telanjang sepenuhnya sebagai bagian dari perancangan ulang majalah yang mencerminkan tersedianya gambaran citra semacam itu secara online.

Akan tetapi pada tahun lalu, perempuan telanjang kembali menghiasi Playboy. Cooper Hefner, pendiri dan Chief Creative Officer perusahaan menyebut bahwa pelarangan itu adalah sebuah kesalahan.

"Ketelanjangan tidak pernah menjadi masalah karena ketelanjangan tidak menjadi masalah," tulis Cooper Hefner di Twitter saat itu.

Menurut sumber yang diwawancarai Journal, Rizvi Traverse saat ini kabarnya sedang dalam pembicaraan untuk mengakuisisi 35% saham Hefner yang dipercaya kepada ahli warisnya. Playboy sendiri ingin mengumpulkan US$25 juta sampai US$100 juta awal tahun ini untuk membantu membeli kembali saham dan mendanai kesepakatan kemitraan di masa depan. (LA Times/X-12)

Komentar