Humaniora

Pemerintah Petakan Ulang Daerah untuk ORI Difteri

Rabu, 3 January 2018 16:00 WIB Penulis: Indriyani Astuti

MI/Bary Fathahilah

INDONESIA tengah mengalami kejadian luar biasa (KLB) Difteri, sehingga perlu dilakukan outbreak response immunization (ORI) sebanyak tiga kali, yakni bulan ini (Desember), bulan depan (Januari), dan enam bulan kemudian (Juli). Sasaran ORI untuk 2017 berjumlah lebih kurang 7,9 juta anak dan 32 juta anak pada 2018.

Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Elizabeth Jane Soepardi menyampaikan bahwa pemerintah akan memetakan ulang wilayah-wilayah yang akan dilakukan ORI pada 2018, setelah 3 Provinsi yakni Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat dan 12 Kabupaten/Kota melalukan lebih dulu.

Kemenkes berencana melakukan ORI di 82 Kabupaten/Kota, 12 kabupaten/kota diantaranya sudah melakukan ORI pada 11 Desember lalu. Kemudian rencananya akan menyusul delapan provinsi.

"Belum ditentukan provinsinya mana aja. Masih menunggu komite ahli dalam penentuannya," tutur Jane di Jakarta, Rabu (3/1).

Menurut Jane, harus ada evaluasi kembali wilayah-wilayah mana yang akan dilakukan ORI karena ada wilayah yang kasusnya dapat diatasi atau tidak ada kasus baru karena sudah melakukan imunisasi ulang secara mandiri. Sementara di wilayah lain, seperti di Nusa Tenggara mulai ada laporan kasus.

"Ini harus dievaluasi kembali. Karena dari daerah yang sudah direncanakan untuk melakukam ORI, sebagian ada yang sudah melakukan survelans dan tidak bertambah kasusnya. Sehingga tidak perlu dilakukan ORI lagi, lebih baik dialihkan ke wilayah lain," ungkap Jane.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Fadila Djiwuta Moelek memastikan bahwa persediaan vaksin dan serum anti difteri atau ADS saat ini tersedia dan cukup. Menkes menuturkan bahwa Kemenkes meminta PT Biofarma untuk meningkatkan produksi dalam rangka menyediakan vaksin tambahan untuk sasaran ORI tahun depan.

“Kita tetap mengupayakan untuk membuat (vaksin). Biofarma akan bekerja keras untuk menyediakan (vaksin) di tahun depan. Kita upayakan cukup. Vaksin ini dibuat di dalam negeri”, terang Menkes pekan lalu di Jawa Timur.

Sementara itu, terkait serum anti difteri, Menkes menyatakan bahwa saat ini tersedia dan cukup.

“Satu orang membutuhkan beberapa vial tergantung dari berat penyakitnya. Ketersediaan serum anti Difteri saya kira cukup. Tapi, harapan saya jangan ada lagi yang kena Difteri”, tambah Menkes.

Terkait impor anti Difteri serum, Menkes menerangkan bahwa PT Biofarma sebenarnya mampu untuk memproduksi, namun saat ini sedang dalam proses pengembangan produksi supaya hasilnya lebih optimal. Dalam perlakuannya vaksin dan serum merupakan dua hal yang berbeda, sehingga kebijakan produksinya pun tidak dapat disamakan.

“Impor ada, sambil menunggu Biofarma bisa buat (produksi serum), ADS ini kan serum, tidak selalu dipakai. Serum ini kan hanya diberikan bagi orang yang terkena Difteri. Penyakit (Difteri) ini kan unpredictable, jadi harus diperhitungkan”, jelas Menkes. (OL-6)

Komentar