Ekonomi

Stabilitas Terjaga, Rupiah Perkasa

Rabu, 3 January 2018 23:44 WIB Penulis: Fetry Wuryasti Fetry@mediaindonesia.com

MI/RAMDANI

BANK Indonesia (BI) menyatakan penguat-an nilai tukar rupiah terjadi karena adanya stabilitas ekonomi dalam negeri yang terjaga dengan baik. Pada pembukaan perdagangan pagi Rabu (3/1), rupiah terpantau menguat ketimbang penutupan kemarin sore, yakni di level 13.400 per dolar AS dan terus merangkak naik. Seperti dilansir Metro-tvnews.com, pada penutupan perdagangan petang kemarin, Bloomberg mencatat rupiah naik 40 poin atau 0,30% di level 13.474 per dolar AS. Menurut Yahoo Finance, rupiah naik 41 poin atau 0,30% dengan berada pada kisaran 13.472 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) merekam mata uang rupiah naik 44 poin dengan berada pada level 13.498 per dolar AS. Kenaikan rupiah terjadi setelah adanya pelemahan mata uang dolar AS di pasaran global. Gubernur BI Agus Martowadojo berpendapat faktor kepercayaan terhadap ekonomi domestik masih berperan besar pada penguatan rupiah. “Kalau rupiah menguat secara umum karena ekonomi nasional dalam kondisi baik,” kata Agus, Rabu (3/1). Menurutnya, kepercayaan tersebut membuat dana asing masuk ke pasar modal dalam dua minggu terakhir serta berperan besar terhadap tersedianya valuta asing.

Kendati demikian, mantan Menteri Keuangan itu tetap mewaspadai sejumlah risiko, terutama yang berasal dari luar negeri, seperti reformasi pajak di Amerika Serikat yang memangkas tarif dan mulai diterapkan tahun ini, serta rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Fed rate sebanyak tiga kali.

IHSG melorot
Di saat rupiah merangkak naik, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru merosot 87,75 basis poin atau 1,38% menjadi 6.251,479. Padahal, di akhir tahun kemarin IHSG mencapai rekor tertingginya di level 6.355,65. Analis PT Recapital Asset Management, Kiswoyo Adi Joe, melihat hal tersebut disebabkan aksi ambil untung atau profit taking. Namun, apa yang terjadi pada IHSG, menurutnya, merupakan koreksi sehat. Menurut Adi, dalam semester 1 2018, kinerja indeks akan masih bullish atau beranjak naik. Penyebabnya, perputaran uang di semester satu bisa kuat lantaran momen pilkada. Penurunan pun dia prediksi hanya akan sementara.

“IHSG kemarin naik terlalu tinggi dan kecepatan di akhir tahun. Namun, dalam semester satu 2018 ini, IHSG masih aman. Bilapun ada penurunan dalam, saham blue chip tetap layak dibeli terutama media dan konsumer,” ujarnya saat dihubungi,Rabu (3/1).
Analis First Asia Capital David Sutyanto berpendapat wajar bila di awal tahun investor melakukan profit taking atau biasa disebut January Effect.

“Namun, sulit untuk mengukur seberapa dalam profit taking akan terjadi. Namun berdasarkan sektor, sepertinya sektor konsumer yang paling banyak kena,” jelas dia. Pada indeks pasar kemarin, sektor konsumer merosot 2,5% dari penutupan sebelumnya di 2861,468 menjadi 2789,641. Beberapa saham sektor konsumer juga ikut terseret, seperti pada Indofarma Tbk (INAF) yang merosot 16,60% atau sebesar 975 basis poin di level 4.900 dari penutupan perdagangan sebelumnya di level 5.875. (E-2)

Komentar