Ekonomi

Impor Kedelai Segera Berakhir

Kamis, 4 January 2018 01:16 WIB Penulis: Andhika Prasetyo Andhika@mediaindonesia.com

ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) mengklaim selama 2017, empat persoalan komoditas pangan yakni beras, jagung, bawang merah, dan cabai telah terselesaikan. Sepanjang tahun lalu, produksi padi tercatat mencapai 81,5 juta ton, naik dari 2014 yang hanya sebesar 70,8 juta ton. Begitu pula tanaman pangan lainnya, yakni jagung, meningkat dari 19 juta ton pada 2014 menjadi 26 juta ton di 2017. Dengan kondisi tersebut importasi beras untuk kualitas medium dan premium serta jagung pun dihapuskan. Padahal, pada dua tahun sebelumnya, angka importasi kedua komoditas itu masih sebesar 1,5 juta dan 3,2 juta ton. “Hari ini kami nyatakan kalau beras, jagung, bawang merah dan cabai sudah selesai. Insya Allah ke depan kami akan fokus pada kedelai, rempah-rempah, bawang putih, dan gula,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu (3/1).

Amran mengakui, komoditas kedelai selama ini memang menjadi persoalan. Selain luas tanamnya terbatas, produktivitas juga rendah sehingga menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah. Berdasarkan data Kementan, pada 2017 luas panen kedelai tercatat hanya 446 ribu ha, menyusut dari 2016 yang mencapai 576 ribu ha dan 2015 sebesar 614 ribu ha. Dengan luas lahan yang minim itu, produksi yang dihasilkan pun tidak dapat terangkat. Pada 2017, produksi kedelai diproyeksikan 675 ribu ton. Lebih kecil dari 2016 yang mencapai 859 ribu ton dan 2015 sebesar 963 ribu ton. Pemerintah pun harus membuka keran impor setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri yang rata-rata 2,5 juta ton per tahun.

Agar tidak terus bergantung pada impor, swasembada kedelai pun dicanangkan pada tahun ini, lebih cepat dua tahun dibandingkan target yang ditetapkan sebelumnya yakni pada 2020. “Dulu, misalnya, kalau mau swasembada 2018, mulai tanamnya 2018. Sekarang tidak. Kami mulai di 2017. Oktober kami tanam, jadi bisa panen Januari,” ujar Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Soemardjo Gatot Irianto. Sebagai langkah awal, Kementan akan menambah areal tanam hingga dua juta hektare (ha). Perluasan lahan tanam itu dibagi menjadi dua periode dan telah dimulai sejak akhir tahun silam.

Pada periode Oktober hingga Desember tahun lalu, Kementan telah menambah a-real tanam kedelai seluas 500 ribu hektare (ha). Adapun, pada periode kedua yang dimulai sejak awal tahun ini, Kementan telah menyiapkan lahan seluas 1,5 juta ha. Seluruh tambahan lahan itu disediakan di 20 provinsi yang antara lain tersebar di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Barat.

Sementara itu, mengenai kebijakan subsidi benih, mulai tahun ini Kementan bakal mengubah skemanya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya disalurkan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri, kini bakal disalurkan lewat peran masyarakat melalui 1.000 Desa Mandiri Benih. Program ini masuk ke program padat karya yang dicanangkan pemerintah sejak 2015 silam.

Menteri Amran mengungkapkan, selama ini serapan subsidi benih tidak berjalan mulus. Pada periode 2015-2016, contohnya, dengan total alokasi sekitar Rp1,2 triliun per tahun, penyaluran benih kepada petani hanya 20%. “Jadi anggaran ini kami ambil. Dengan Rp1 triliun itu, bisa untuk mencukupi 3 juta hektare (ha) sawah, 4 juta ha jagung, dan 500 ribu lahan kedelai. Semua kami berikan gratis kepada petani,” tegasnya. (E-2)

Komentar