Ekonomi

Pemerintah Diminta Waspadai Harga Minyak

Kamis, 4 January 2018 04:45 WIB Penulis: (Nyu/E-2)

MI/Haryanto

BANK Indonesia (BI) mengapresiasi pemerintah yang mampu menjaga inflasi di kisaran 3% dalam 3 tahun terakhir. Pada tahun 2017, inflasi pada angka 3,61% dan relatif terkendali. Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan inflasi pada tahun 2018 yang dipatok 3,5% plus minus 1% akan dipengaruhi dua hal yakni pergerakan harga minyak dan volatile food (harga pangan bergejolak). Untuk itu BI meminta pemerintah untuk mewaspadai hal tersebut. “Dua itu harus diwaspadai. Yaitu volatile food dan harga minyak. Kalau administered prices dampaknya di 2017 seperti harga listrik di semester pertama,” ujar Agus di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, rabu (3/1).

Diketahui pada 2017, inflasi lebih dipengaruhi harga yang diatur pemerintah, khususnya penyesuaian harga listrik untuk pelanggan 900VA rumah tangga mampu. Sedangkan volatile food seperti cabai dan beras berhasil dikendalikan pemerintah. Terkait harga minyak, Agus menilai hal itu karena adanya tren kenaikan harga minyak hingga US$55 per barel, atau lebih tinggi daripada target APBN 2018 US$48 per barel. “Risiko harga minyak dunia ini ada, tapi kita tahu harga minyak dunia ini rata-rata setahun. Secara rata-rata di atas US$50 bisa terjadi, tapi belum tentu sampai US$60,” ucapnya.

Meski berpengaruh kepada inflasi, Agus menilai kenaikan harga minyak tersebut juga bisa berdampak positif bagi APBN. Sebab akan ada penerimaan yang naik dari minyak sehingga belanja pemerintah, khususnya bantuan sosial bisa terealisasi dengan baik dan berdampak positif ke pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, Agus yakin pemerintah mampu menjaga inflasi dari kenaikan harga minyak tersebut dengan pengelolaan yang prudent. Terlebih pemerintah telah menegaskan tidak akan menaikkan harga BBM hingga Maret 2018. “Saya sudah dengar pemerintah tidak berencana mengubah subsidi BBM di 2018, dan itu sudah merupakan kebijakan sehingga risiko dapat terkendali,” pungkasnya. (Nyu/E-2)

Komentar