Ekonomi

Cabai dan Bawang akan Diasuransikan

Sabtu, 13 January 2018 00:40 WIB Penulis: Erandhi Hutomo Saputra erandhi@mediaindonesia.com

ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mengaku ada ide untuk memperluas cakupan asuransi pertanian untuk lahan komoditas lain, yakni cabai dan bawang merah. Ide itu baru akan didiskusikan bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia. “Ini kan harga cabai kadang fluktuasinya tinggi sekali, kadang Rp5.000 kadang Rp80 ribu. Ada ide untuk memperluas ke sana, tapi belum didiskusikan, nanti akan didiskusikan melalui Asosiasi Asuransi Umum,” ujar Plt Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Nonbank (IKNB) 2 OJK Mohammad Ihsanuddin di Gedung OJK Jakarta, Jumat (12/1).

Ia menambahkan, ide untuk memperluas asuransi bagi lahan pertanian cabai dan bawang merah tersebut baik untuk menjaga petani dari potensi gagal panen. Terpenting perluasan komoditas yang diasuransikan harus merupakan komoditas yang mempunyai fluktuasi harga yang tinggi dan dikonsumsi mayoritas rakyat Indonesia. “Memang yang pas untuk produk komoditas yang dibutuhkan rakyat terus menerus, kalau buah tidaklah, dan yang fluktuasinya tidak terkontrol seperti cabai, bawang, hal-hal itu akan didiskusikan,” jelasnya.
Secara terpisah, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku memang tengah melakukan kajian untuk mengasuransikan lahan pertanian cabai dan bawang merah.

Nantinya kajian tersebut akan didiskusikan dengan pihak-pihak terkait termasuk OJK. “Secara bertahap akan kami lakukan, ini kan pertama dalam sejarah,” ucapnya. Terkait dengan target pelaksanaan, Amran mengaku terbuka kemungkinan akan dilakukan pada tahun ini. “Mudah-mudahan (pada 2018), lebih cepat lebih bagus,” tamdasnya.

Kesadaran membaik
Dalam kesempatan itu, Ihsan menyebut kesadaran petani padi dan peternak sapi untuk mengasuransikan lahan padi dan indukan sapi sudah membaik. Untuk asuransi usaha tani padi (AUTP), dari target 1 juta lahan padi yang diasuransikan pada 2017, realisasinya mencapai 997 ribu lahan dengan jumlah 1,6 juta petani. Jumlah premi yang disetor petani mencapai mencapai Rp179 miliar dengan jumlah klaim Rp107 miliar. “Provinsi yang klaimnya paling tinggi Jawa Barat Rp33,9 miliar, Jabar juga yang tertinggi untuk lahan yang diasuransikan mencapai 220 ribu hektare,” tukasnya.

Untuk asuransi usaha ternak sapi (AUTS), dari target 120 ribu indukan sapi yang diasuransi, realisasi 2017 ialah 92 ribu indukan sapi. Jumlah premi yang disetor mencapai Rp18,4 miliar dengan klaim Rp9,9 miliar. Pada akhir tahun ini, OJK bersama Kementerian KKP juga telah mengeluarkan produk asuransi baru, yakni asuransi usaha budi daya udang (AUBU). Sambutan dari petambak udang pun cukup baik dengan realisasi mencapai 100% dari target 3.300 hektare tambak udang dengan jumlah pembudidaya mencapai 2.004 orang.
“Asuransi budi daya udang ini pertama kalinya di dunia. Petambak bisa klaim sampai tiga kali dalam setahun, preminya 100% dibayari pemerintah,” tandasnya. (E-1))

Komentar