Polkam dan HAM

KPK Bantah Serang Profesi Advokat

Sabtu, 13 January 2018 21:10 WIB Penulis: Golda Eksa

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

KOMISI Pemberantasan Korupsi membantah tindakan hukum dengan menangkap pengacara Fredrich Yunadi atas sangkaan merintangi dan menghalangi penyidikan (obstruction of justice) digeneralisasi sebagai upaya untuk menyerang profesi advokat secara umum.

Penegasan itu disampaikan Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, melalui keterangan tertulis yang diterima pewarta, Sabtu (13/1). Hal itu merujuk pernyataan Fredrich yang menilai advokat memiliki hak imunitas dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 26 Tahun 2003, serta tidak bisa dituntut secara perdata dan pidana sesuai Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003.

Menurut dia, banyak advokat profesional dan baik ketika menjalankan tugas profesinya. Pelaksanaan tugas tersebut pun selalu mengedepankan etika profesi serta tidak berupaya menghalang-halangi proses penegakan hukum.

"Adalah betul bahwa profesi advokat ataupun dokter adalah profesi mulia yang ditunjukkan untuk melindungi hak-hak klien dan untuk mengobati orang sakit," ujar Laode.

Dengan demikian, sambung dia, diharapkan advokat dan dokter tidak berusaha menghalangi proses penanganan kasus korupsi yang dilakukan penegak hukum. Ia menilai pelanggaran tersebut dapat dikenakan sanksi seusai Pasal 21 UU Tipikor.

Fredrich ditangkap KPK pada Jumat (12/1) jelang tengah malam. Setelah 11 jam menjalani pemeriksaan, mantan pengacara terdakwa kasus KTP elektronik, Setya Novanto, itu langsung dijebloskan ke Rutan KPK untuk menjalani penahanan selama 20 hari pertama.

Selain Fredrich, lembaga antirasywah ikut menahan dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo. Keduanya dinyatakan bersalah karena menghalangi proses penyidikan dengan memanipulasi data medis Novanto pascainsiden kecelakaan, 16 November 2017. (OL-2)

Komentar