Jeda

Ruang Publik tidak Aman bagi Anak

Ahad, 14 January 2018 06:41 WIB Penulis: Riz/FD/M-4

ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

VIRALNYA video pelecehan seksual di Bandung dan kekerasan seksual oleh guru honorer di Tangerang yang korbannya mencapai puluhan orang menimbulkan banyak reaksi. Fenomena tragis itu, menurut Koordinator Ending the Sexual Exploitaion of Children (ECPAT) Indonesia, Ahmad Sofian, menunjukkan ruang publik tidak lagi aman bagi anak-anak. Baginya negara gagal memberikan perlindungan anak di ranah publik.

"Kalau di ranah privat itu, memang menjadi domainnya keluarga. Namun, ketika kekerasan tersebut berlangsung di sektor publik yang pelakunya tidak memiliki keterkaitan keluarga, berarti sebenarnya negara yang gagal dalam memberikan perlindungan terhadap anak-anak di Indonesia," jelas Ahmad kepada Media Indonesia, Rabu (10/1).

Pelaku kekerasan seksual itu, kata Ahmad, ada yang semata mencari kepuasan sendiri. Namun, ada yang menjadikannya sebagai objek diperjualbelikan. Bila diperjualbelikan, melibatkan pihak lain dalam eksploitasi anak itu.

Ahmad juga menekankan perlu langkah pencegahan. Misalnya, di industri pariwasata ada kode etik dari World Tourism Organization, yakni mengatur agar seluruh fasilitas pariwisata membuat kebijakan etik untuk perlindungan atau mencegah terjadinya eksploitasi seks pada anak. Kode etik itu mengatur pelatihan kepada seluruh karyawan hotel untuk mengetahui wisatawan yang membawa anak-anak yang dicurigai bukan memiliki hubungan kekerabatan.

Secara terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengakui sampai saat ini pihaknya belum memiliki kemampuan mendeteksi kekerasan seksual terhadap anak yang mendalam. Meskipun begitu, ia mengaku pihaknya terbuka dan siap untuk kerja sama dalam hal kejahatan ini.

Tidak hanya PHRI, sejumlah komunitas juga melakukan upaya pencegahan dan rehabilitasi bagi korban kekerasan seksual. Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) juga menyediakan sejumlah skema dan program untuk meminimalkannya. Namun, semua itu perlu peran serta masyarakat agar anak-anak kembali aman saat berada di ruang publik.(Riz/FD/M-4)

Komentar