Ekonomi

Impor Beras Demi Menjamin Kebutuhan Rakyat

Ahad, 14 January 2018 20:02 WIB Penulis: Cahya Mulyana

Ist

PEMERINTAH diminta tidak alergi terhadap impor beras apabila persediaan beras sudah menipis. Pasalnya, jika beras semakin mahal dan terbatas maka masyarakat miskin akan menjadi korbannya.

"Sebaiknya pemerintah tidak usah alergi untuk impor kalau memang pasokan kurang. Masalah peningkatan produktivitas pertanian itu penting, tetapi ini solusi jangka panjang yg tidak pernah berhasil. Kita harus akui bahwa Indonesia tidsk mampu mempunyai produksi beras yang cukup," terang Pengamat Ekonomi dari Center fot Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, Minggu (14/1).

Yose menyatakan pemerintah tidak tinggal diam atau mengutamakan citra memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan beras jika kenyataannya sebaliknya. Sebab masyarakat akan menjadi korban ketika harga beras tinggi.

"Jangan karena kampanye politik untuk tidak impor malah merugikan masyarakat miskin. Dan ini sangat beresiko tinggi, apalagi di tahun politik," katanya.

Menurut dia, kepentingan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dalam menjaga ketersediaan beras dibanding permasalahannya inflasi. Bobot komoditas makanan dalam inflasi kurang dari 20% dan terus menurun karena daya beli masyarakat Indonesia yang meningkat.

Bobot beras dalam inflasi juga menurun yakni kurang dari 5%. Jadi kalaupun harga beras naik 50%, inflasi hanya akan naik sekitar 2%.

"Masalahnya adalah porsi kinsumsi beras di pengeluaran masyarakat miskin masih sangat besar. Sekitar 25% pengeluaran mereka masih untuk beras," ujarnya.

Bahkan di pedesaan dan untuk kelompok petani miskin, kata dia, beras masih mengambil porsi lebih dari 20%. Jadi kenaikan harga beras yang tidak terkendali akan menyebabkan tergerusnya pengeluaran dan daya beli masyarakat miskin.

"Tidak berlebihan jika ada kekhawatiran jika harga terus meningkat, jumlah penduduk miskin akan bertambah secara signifikan," tutupnya. (OL-3)

Komentar