Features

Senja Kala Angkutan di Kota Bekasi

Rabu, 17 January 2018 20:19 WIB Penulis: Gana Buana

Dok. MI

DENGAN perlahan, Nainggolan menginjak pedal gas mobil berwarna merah bata yang ia kemudikan. Mobil berpelat kuning itu terlihat sepi, padahal rute perjalanannya sudah mendekati titik akhir.

Namun, mata Nainggolan tetap saja mengawasi tiap sudut jalan. Ia berharap ada beberapa penumpang rela menyewa jasa angkutan miliknya yang kini mulai keropos.

“Sudah dua rit baru Rp15 ribu saya dapatkan,” tutur sopir angkutan umum K19 A jurusan Pondok Timur Indah-Terminal Bekasi ini, Rabu (17/1).

Lelaki berusia 50 tahun ini mengaku, masa kejayaannya menjadi sopir angkutan selama 30 tahun sudah sampai di titik nadir. Sejak kehadiran angkutan umum berbasis daring, para penumpangnya migrasi massal ke jasa para pengemudi angkutan berbasis aplikasi tersebut.

Dalam sehari, paling besar Nainggolan mengaku hanya bisa mendapatkan penghasilan sebanyak Rp60 ribu. Uang tersebut belum lagi dipotong bensin dan makan siang.

“Bersihnya ya paling Rp30 ribu,” paparnya perlahan.

Tak patah semangat, ia mengaku akan tetap menjadi sopir angkutan umum. Sebab, mobil berusia 14 tahun tersebut adalah hartanya yang paling berharga.

Namun, seiring dengan rencana pemerintah menggeser moda transportasi di Kota Bekasi, ia pun mendukung langkah tersebut. Bahkan ia berharap pemerintah mau memberdayakan para bekas sopir angkutan di Kota Bekasi.

“Mau mobil kita dibeli ya engga apa-apa, asal cicilan per bulan jangan kegedean. Syukur-syukur bisa seperti Jakarta,” harap Nainggolan.

Senada diungkapkan koleganya Tambunan, sopir angkot K-34 jurusan Rawakalong-Terminal Bekasi. Dia menilai, kehadiran ojek daring sudah pasti menurunkan omset sehari-hari. Bahkan para pengusaha angkutan banyak yang pasrah tak mau meremajakan angkutan umum mereka

“Ya ganti usaha lain, ada yang usaha sembako ada yang lainnya, bahkan ada yang jadi sopir bajaj,” lanjut dia.

Dinas Perhubungan Kota Bekasi membekukan izin operasional 2.284 unit angkutan umum di Kota Bekasi. Sebab, usia ribuan angkutan umum ini sudah lebih dari 15 tahun.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Yayan Yuliani menyampaikan, ribuan unit angkutan umum tersebut tidak lagi akan diremajakan. Bahkan, pihaknya pun tidak akan mengeluarkan izin operasional dari angkutan-angkutan tersebut.

“Satu-satunya jalan mereka bisa menghitamkan nomor polisinya,” ungkap Yayan.

Yayan menjelaskan, sebelum 2014 jumlah angkutan umum yang tercatat di Kota Bekasi ada 3.488 unit. Namun, sekitar 2015 jumlah tersebut tinggal 1.457 unit. Bahkan di 2016 jumlah angkutan umum tinggal 1.204 unit.

Berkurangnya jumlah angkutan ini beberapa penyebabnya adalah lantaran para pengusaha angkutan umum, yang tak bisa bertahan bersaing dengan pengemudi ojek daring. Sehingga, lama kelamaan jumlah angkutan umum tersebut berkurang dengan sendirinya.

“Selain pengusaha yang malas untuk memperpanjang izin operasional mereka, saat ini mereka lebih banyak pasrah karena kalah bersaing dengan kehadiran ojek daring,” jelas dia. (OL-4)

Komentar