Inspirasi

Membuka Diri dan Bersosialisasi

Kamis, 18 January 2018 12:00 WIB Penulis:

MI/SUSANTO

PEREMPUAN sekuat Indyra mungkin tidak banyak.

Ia tegar dijalan seni meski harus menanggung kuali untuk tiga perut.

Masa-masa awal, ia sempat merasakan guncangan yang sangat besar.

Bahkan ia sampai menutup akses hunbungan dengan lingkungan sekitar. Ia membatasi diri dalam pergaulan.

Dalam pikirannya, Indyra hanya mau fokus pada kerja untuk anaknya.

"Jadi saya sempat lama kaya nge-block (membatasi). Malah belum lama ini saya buka. Saya sempat lama yang nge-block dari dunia pertemanan yang gak penting. Jadi saya fokus saja di proyek. Karena saya masih punya anak yang harus saya kasih makan, harus saya biayain sekolah," ungkapnya.

Namun seiring berjalannya waktu, Indyra sadar bahwa menutup diri dari sosial malah tidak membuatnya semakin baik.

Indyra mulai membuka akses ke sosial.

Ia tidak lagi hanya berkesenian, mencari nafkah, dan membesarkan anak.

Sebab ternyata ia sadar bahwa bersosialisasi bukan berarti untuk orang lain.

Justru orang lain itu bisa membantu hidupnya dengan banyak cara. Tidak melalu hanya materi.

"Saya pikir ke diri saya bikin sakit. Maksudnya saya kok jadi nelangsa ya. Ternyata keadaan apapun kita mesti bersosialisasi. Tadinya berfikir, saya sendiri pun kuat. Tapi, ternyata kita butuh orang lain juga," tegasnya.

Tak hanya bersosialisasi, Indyra juga menerima murid-murid untuk belajar seni kepadanya.

Awalnya hanya segelintir orang, namun lambat laun, Rumah Indyra banyak didatangi orang yang ingin belajar lukis.

"Dari mulut ke mulut banyak berguru. Mungkin sekarang boleh dibilang murid saya sudah ribuan kali ya. Saya ajar lukis. Tapi, yang ajarkan ya yang saya tahu, yang saya kerjakan. Bukan yang menurut buku. Ternyata banyak yang cocok," pungkasnya.

Kesabaran

Dalam menghadapi berbagai tekanan dalam hidup, Ia bisa hadapi dengan kesabaran.

Sebab kesabaran merupakan kodrat dari perempuan. "Cuma dari tekanan itu.

Lihatnya balik lagi ke kodrat perempuan, ada kesabaran," terangnya.

Sabar tidak berarti berpangku tangan.

Sabar berbeda dengan pasrah. Indyra lebih memilih sabar sekaligus mensyukuri yang dia miliki. Apa pun itu.

"Kalau pasrah sih tidak, susah banget kata pasrah. Saya lebih mensyukuri saja bahwa saya punya rumah. Saya tidak kehujanan. Saya punya anak. Saya punya murid. Dan saya punya internet. Itu yang paling penting," ucapnya sembari setengah bercanda pada bagian akhir. (Zuq/M-2)

Komentar