MI Anak

Badak Sumatra Bercula Dua dan Berambut!

Ahad, 21 January 2018 06:16 WIB Penulis: Fathurrozak Jek/(*/M-1)

DOK FATHURROZAK JEK

Ya! ciri-ciri yang disebutkan tadi ialah badak sumatra yang kini diperkirakan tersisa hanya 100 ekor di habitatnya yang menyebar dan tidak berada dalam satu titik populasi di wilayah Sumatra. Kondisi itu menjadikan badak sumatra terancam kepunahannya.

Wah, sayang banget kan, bisa-bisa saat Sobat Medi sudah dewasa hanya bisa melihat gajah dalam lukisan dan foto!

Meski kondisinya memprihatinkan, Sobat Medi juga perlu optimistis, dengan jumlah populasi badak yang juga disebut sebagai hairy rhino karena punya banyak rambut ini sebab pada 2016 lalu, ada yang baru saja lahir!

Ada yang sudah tahu, siapa namanya? Namanya spesial lo, karena yang memberi nama ialah Bapak Presiden kita, Joko Widodo. Namanya Delilah! Kelahiran Delilah menjadi kabar bahagia untuk Indonesia. Dengan jenisnya yang betina, kita harap populasi badak sumatra bisa bertambah ketika Delilah menjadi ibu.

Delilah merupakan adik badak sumatra jantan bernama Andatu. Mereka lahir dari badak jantan bernama Andalas, yang sebelumnya tinggal di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat. Ia kembali ke Indonesia dan dijodohkan dengan Ratu. Dari perkawinan Andalas dan Ratu, lahir Andatu dan Delilah.

Pameran Seni Badak Sumatra

Untuk mengenalkan dengan Sobat Medi dan teman yang lain, Tim Badak, organisasi yang melakukan kampanye perlindungan badak sumatra, mengadakan Pameran Seni Badak Sumatra. Pameran itu berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, dari 19 hingga hari ini. Dalam pameran ini, Sobat Medi akan diajak berkenalan dan mengenal lebih jauh badak sumatra dalam karakter-karakter yang menarik dan menggemaskan.

Ada mural yang dibuat Kak Riyan Riyadi alias The Popo, seniman yang membuat mural di depan Perpustakaan Nasional. Sosok badaknya berpakaian hitam dan membawa avokado.

Sebenarnya, persebaran hewan yang memiliki nama Latin Dicerorhinus sumatrensis ini di wilayah Asia meliputi India, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Tiongkok, yaitu di daerah Sichuan. Namun, karena jumlahnya yang terus mengalami penurunan drastis, populasi mereka menurun dan terancam punah.

Rumahnya di Sumatra dan Kalimantan

Mereka hanya dapat ditemukan di daerah Sumatra, di Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Gunung Leuser, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Selain di Sumatra, mereka bisa dijumpai di hutan Kalimantan.

Habitat mereka, daratan, pegunungan, hingga laut dengan ketersediaan air cukup tinggi. Mereka bisa menghabiskan waktu untuk berkubang pada siang dan menjelang matahari terbit.

Karena sifat badak sumatra yang malu-malu, mereka akan memilih menjelajah hutan dengan kerapatan tinggi. Nah, dengan penjelajahan ini, rupanya mereka juga turut menyebarkan tanaman lo. Jadi, mereka juga disebut gemar berkebun dan menanam dengan menyebarkan bibit-bibit tumbuhan yang mereka makan dan menjelajah hutan.

Mereka biasanya memakan pucuk, ranting, rotan, dan palem. Nah, saat musim kemarau tiba, mereka memilih berjalan di atas serasah yang tebal untuk melindungi telapak yang cukup tipis, supaya terhindar dari panasnya tanah.

Sulit berjodoh

Lalu, mengapa badak sumatra ini yang dipilih untuk topik pameran ya? Nah, Sobat Medi, sebenarnya, di Indonesia ada dua jenis badak, yakni badak jawa dan badak sumatra. Namun, ada alasan mengapa Tim Badak mengadakan pameran khusus badak sumatra.

"Badak sumatra ini kan populasinya menyebar, tidak terfokus di satu titik. Beda dengan badak jawa, yang berada dalam satu lingkup populasi. Meski jumlah badak jawa lebih sedikit ketimbang badak sumatra, dengan terfokusnya populasi mereka, akan memudahkan untuk kawin dan masih ada harapan bertambahnya jumlah populasi. Sementara, badak sumatra, mereka tersebar. Jadi, susah untuk dipertemukan dan kawin. Memerlukan waktu," terang Ibu Noviar Andayani, Country Director Wildlife Conservation Society, saat dijumpai seusai konferensi pers, di Perpustakaan Nasional, Jumat, (19/01).

Selain faktor itu, badak sumatra yang punya karakter 'moody' atau terkadang enggan bereproduksi juga menjadi alasan mengapa pentingnya fokus terhadap kelangsungan populasi si badak gondrong ini. Bereproduksi hanya bisa dilakukan dalam waktu tertentu. Si betina hanya mau didatangi pada empat hari tertentu saat si betina punya mood.

Bukan itu saja lo, Sobat Medi, hanya akan ada satu hari tertentu si betina mau menerima pejantan. Selain itu, pasti ditolak. Ya, kasihan ya sama badak jantan!

Karena sikapnya yang penyendiri pula, si betina, meski sedang punya mood untuk bereproduksi, susah bertemu dengan si jantan. Wah, ribet ya hubungan mereka.

Komentar