Jeda

Tercukupi dari Kebun Sendiri

Ahad, 21 January 2018 08:30 WIB Penulis:

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

DENGAN merawat hutan adat dan sistem pengolahan lahan, mengolah singkong menjadi rasi alias beras singkong, dan bersetia pada sumber karbohidrat alternatif itu, masyarakat Kampung Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, konsisten mencontohkan kearifan bertani dan mengonsumsi.

Di sana ada 20 hektare kawasan adat. Lokasinya di lereng Gunung Gajah Langu yang terbagi jadi tiga kategori, Leuweung Larangan, Tutupan, dan Baladahan. Dari leuweung atau hutan Baladahan, singkong, salah satu tanaman andalan, diolah, dikupas, digiling, dan disaring hingga rasi diperoleh dari ampas yang dikeringkan, hingga tahan 4-5 bulan.

"Kami hanya makan singkong karena memegang prinsip. Masyarakat adat ada sejak 1918. Tapi barulah pada 1924, mengonsumsi rasi, dipelopori oleh Omoh Asnamah alias Ibu Sepuh. Atas jasanya, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Pangan pada 1962," kata Triyana Santika, 33, salah 1 dari sekitar 1.000 warga adat Cireundeu. Hingga kini, nyaris seabad Cireundeu konsisten pada rasi.

Kesetiaan berbuah pembelajaran tentang ketahanan pangan lokal itu juga terjadi di komunitas adat Bonokeling, Banyumas, Jawa Tengah, yang mandiri dengan merawat tradisi lumbung sehingga makanan pokok tercukupi mandiri. Kisah serupa juga tengah dirintis di Desa Greges, Temanggung, Jawa Tengah, yang berikhtiar kembali pada tradisi nasi jagung karena alasan pasokan, harga, dan kesehatan. Jejak mereka menjadi pembelajaran soal kemandirian, kesetiaan pada nilai-nilai tradisi, sekaligus inovasi untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya. (Zuq/ LD/TS)

Komentar