Gaya Urban

Memulas Daya Imajinatif Dengan Cat Air

Ahad, 21 January 2018 14:15 WIB Penulis: Fathurrozak

MI/ADAM DWI

SEBUAH kuas dicelup-celupkan ke dalam gelas berisi air sebelum akhirnya disapukan dengan hati-hati di atas kertas. Di atas kertas, sudah ada warna-warna yang terpulas dan berjejer tersusun seperti daftar warna.

Sekitar 20 orang dengan tenang menjajal warna-warna yang tersedia. Mereka sedang belajar melukis menggunakan cat air (watercolor). Tahap pertama yang mereka lakukan ialah membuat palet warna, untuk mengetahui, warna apa saja nanti yang akan mereka gunakan saat melukis suatu objek. Bersama Luqman Reza Mulyono, seniman yang akrab dengan cat air ini mengajari 20 orang yang tergabung dalam workshop How To Paint A WaterColor Animal Illustration, yang diadakan di Backspace, Lippo Mal Puri, Jakarta.

Melukis menggunakan cat air, ciri utamanya transparan dan masih terlihat basah, serta medium utamanya kertas. "Kertasnya khusus dengan material 100% katun, 300 gram. Kalau untuk tingkat yang masih student, biasanya mengandung selulosa," terang pria yang biasa disapa Jongkie pada Sabtu, (20/01).

Kertas yang digunakan memang bukanlah kertas yang biasa kita gunakan untuk printing. Terbukti saat peserta menempelkan selotip sebagai pembatas untuk mempermudah memberikan gradasi pada latar objek yang akan dilukis. "Tenang, tidak akan robek," Jongkie mencoba menginstruksikan.
Peserta pun melanjutkan dengan mewarnai latar objek. Melukis menggunakan watercolor memang harus memulai terlebih dahulu dari objek yang paling luas, seperti yang akan menjadi latar. Selain memulai dengan yang paling luas, juga dimulai dengan bagian mana yang paling terang.

"Makanya kita dalam melukis dengan watercolor sudah harus berpikir besar dulu, akan seperti apa nanti gambarnya, karena kalau salah, ketika cat ditimpa, akan jelek, tidak seperti cat minyak," seperti yang diungkapkan salah satu peserta, Vanessa Hioe, ia mengaku masih belajar dalam melukis dengan watercolor. "Susah ya, apa lagi untuk bagian layering. Tapi seru sih."

Para peserta workshop seragam untuk menggambar Burung Merak. Teknik yang digunakan antara lain adalah teknik wash, yakni menyapukan kuas yang masih basah ke atas kertas, ini digunakan untuk areal yang luas. Ada juga teknik wet on wet, yakni saat cat yang di kertas masih basah, akan kembali ditimpa menggunakan cat yang juga masih basah. Ini akan menimbulkan efek blur, seperti bokeh dalam fotografi.

Sementara, untuk menyasar detail objek, seperti alis, mata, atau bulu-bulu, teknik yang digunakan adalah dry atau kering. Cat yang digunakan haruslah kering, dan ketika akan menimpa warna sebelumnya, harus menunggu kering terlebih dahulu. Cat juga harus kental.

Jongkie menyarankan, biasanya dalam melukis dengan watercolor, kuas yang digunakan ada dua jenis kuas, yakni besar dan kecil. Terkait ukuran, biasanya tergantung dari merek. Terpenting adalah ada kuas yang berukuran besar untuk mewarnai areal luas, dan kuas kecil untuk detail. "Ada banyak sih, seperti jenis round, flat atau pipih, kipas, dan seperti pisau. Tapi cukup pakai yang jenis round dengan ukuran yang besar dan kecil saja."

Ilustrasi surealis

Berangkat dari disiplin arsitektur, awalnya Jongkie memulai dengan menggambar bangunan. Ia pun banting setir dengan menekuni skema watercolor. "Dulu gambar malah masih pakai pensil dulu sebelum ke watercolor. Setelah saya tidak menekuni dunia arsitektur lagi, saya mulai belajar terkait anatomi wajah manusia. Kemudian saya pun menggambar dengan cat air."

Setelah cukup khatam bermain-main dengan wajah manusia, kini Jongkie berfokus pada ilustrasi binatang. Menurutnya, menggambar binatang lebih memiliki daya imajinatif yang lebih luas ketimbang menggambar wajah manusia. Meski Jongkie juga kini sesekali masih menggambar wajah manusia ketika mendapat permintaan.

"Kadang kan, kalau gambar wajah itu, orangnya minta yang sesuai dengan fotonya banget, atau malah komplain mas, kok begini ya, kurang ini nih. Kalau binatang, enggak ada tekanan seperti itu. Jadi merasa lebih universal saja," paparnya.

Gaya yang ditekuni pria asal Situbondo, Jawa Timur ini, merupakan ilustrasi surealis. Menggambar masih sesuai dengan kondisi realis si objek, tapi Jongkie menambahkan daya imajinatif yang dilebihkan, untuk menambah daya dramatis dari si objek tersebut. "Misal, gambar gajah ini kan, ya saya sesuai dengan bentuk aslinya, tapi saya tambahkan seolah-olah ada gajah yang menghilang di belakangnya sebagai latar," terang Jongkie sambil menunjukkan salah satu karyanya. Dalam gaya ini pula, warna yang digunakan tidak harus sesuai dengan kondisi aslinya. (M-2)

Komentar