Kuliner

Menyeruput Kopi Asli Bajawa

Kamis, 25 January 2018 12:05 WIB Penulis: Palce Amalo

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

KATHARINA Naru Sena masih ingat cuplikan dialog antara Cinta dan Rangga mengenai cita rasa dan aroma Kopi Arabika Bajawa dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2).

Cinta yang diperankan Dian Sastrowardoyo mengajak Rangga (Nicholas Saputra) menyeruput kopi di sebuah kedai kopi di Yogyakarta.

"Ketika itu Rangga bilang ke Cinta, kopi apa sih? Enak bangat. Cinta menjawab Arabika Bajawa. Saya tunggu-tunggu sebutan itu," cerita Katharina, pemilik Ja'o Coffee Bar Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Jawaban Cinta merupakan pengakuan masyarakat terhadap Kopi Arabika Bajawa sebagai kopi bermutu spesial karena cita rasanya enak, khas, dan unik.

Tidak hanya Yogyakarta, di Jakarta sudah tersebar kedai-kedai yang menjual Kopi Arabika Bajawa.

Sementara itu di Kupang, Ja'o Coffee Bar yang berdiri sejak 2016, menjadi satu-satunya tempat nongkrong pencinta kopi di kota tersebut.

Sejak dibangun, animo masyarakat menikmati kopi asli Bajawa di kafe tersebut tidak terbendung. Sekitar 60-100 pengunjung datang setiap harinya.

Kathrina mengatakan banyak pengunjung dari luar daerah beberapa kali mampir untuk mencicipi kopi Arabika Bajawa.

"Kami menyajikan kopi yang pure origin sehingga masyarakat benar-benar puas menikmati kopi," ujarnya.

Kopi olahan yang disajikan di kafe itu berupa expresso, latte art, capucino, avogato, dan americano.

Ada juga tubruk Arabika Bajawa dengan kudapan pangan lokal.

Kopi tubruk Bajawa adalah kopi hitam yang masih ada ampas.

Namun, jika pengunjung tidak suka, bisa memesan americano.

"Kopi olahan beda-beda tetapi tetap arabika bajawa murni," tambanya.

Ekspor ke Eropa, AS

Lebih dari 15 tahun terakhir, kopi yang tumbuh di dataran tinggi Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, rutin diekspor ke sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat dengan brand Arabika Flores Bajawa (AFB).

AFB termasuk biji kopi berkualitas yang diekspor Indonesia. Ditanam di tanah subur vulkanis dengan ketinggian 1.000 meter-1.300 meter, AFB menghasilkan karakter kopi beraroma bunga dengan kesan rasa manis yang kuat serta keasaman sedang.

Biji kopi Arabika Bajawa didatangkan langsung dari kebun keluarga yang menyebar di desa-desa bersuhu dingin di Kabupaten Ngada, yakni Kecamatan Golewa Barat dan Kecamatan Bajawa.

Di sana sudah ada unit-unit pengolahan kopi milik keluarga yang memproses biji kopi pilihan kualitas ekspor sebelum dikirim ke Kupang.

"Kami punya kebun kopi di Bajawa. Kami memutuskan tidak hanya memperkenalkan kopi ke luar negeri, tetapi juga di dalam negeri, seperti membangun kafe untuk memperkenalkan kopi bajawa asli," kata perempuan asli Bajawa itu lagi.

Saat dihubungi secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian NTT Yohanes Tay mengatakan, pihaknya mencatat nilai ekspor kopi AFB pada 2015 mencapai Rp8,2 miliar dan meningkat menjadi Rp10,5 miliar pada 2016.

Namun, selama 2017 nilai ekspor tiba-tiba anjlok hingga Rp570,7 juta.

Kondisi itu tidak terlepas dari rendahnya produksi kopi sebagai dampak dari perubahan iklim.

Angin kencang dan La Nina yang terjadi pada fase pembungaan membuat bunga kopi berguguran.

Rendahnya produksi kopi berdampak terhadap menurunnya nilai ekspor.

"Produktivitas normal tanaman kopi AFB di Kabupaten Ngada mencapai 2 ton-3 ton per hektare (ha) yang berasal dari lahan seluas 5.891 ha. Sejak muncul La Nina, produksi kopi berkurang menjadi 0,8 ton per ha," jelasnya.

Faktor lain yang berdampak terhadap penurunan produksi, tambah Yohanes, petani belum menerapkan pedoman bercocok tanam kopi yang baik serta penggunaan lahan tanam yang tidak unggul.

Menurutnya, perkebunan kopi di Bajawa perkebunan kopi rakyat yang diusahakan turun-temurun, sampai saat ini berjumlah 9.063 petani.

"Kami perkirakan produksi kopi akan kembali normal di 2018," tambahnya.

Sementara itu pada 2015, Kementerian Hukum dan HAM memberikan sertifikasi Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Flores Bajawa yang bertujuan menjamin keberlanjutan komoditas tersebut.

Selanjutnya, untuk melindungi kawasan AFB, Pemkab Ngada mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2015 tentang Perlindungan Kawasan Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Bajawa sebagai kopi spesial.

Yohanes menyebutkan petani yang terafiliasi dalam Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) kopi AFB telah memproduksi kopi kualitas premium untuk ekspor. (X-7)

Komentar