Jendela Buku

Sesudah Kesulitan itu Ada Kemudahan

Sabtu, 27 January 2018 10:31 WIB Penulis: Ferdian Ananda Majni

MI/Seno

LAUT selatan berwarna biru gelap.

Ombaknya bergulung-gulung membuat kapal berayun-ayun di tengah laut.

Kadang, apabila ada haluan kapal menungging ke depan, ombak memecah sampai ke geladak kapal.

Saat inilah yang paling sibuk bagi awak kapal karena harus segera bersama-sama membuang kembali air laut itu dari geladak.

"Pada awal aku bekerja sebagai anak kapal ini, dalam pelayaran menempuh gelombang besar, beberapa kali aku sempat terjatuh karena ayunan kapal. Punggung dan bahuku sakit kena benturan balok atau benda-benda keras lainnya yang ada di geladak kapal."

"Hati-hati Buyung! Bisa-bisa kau terlempar ke laut. Jaga keseimbangan badanmu," kata Pak Hanafi menasihatiku.

Kisah Aam dimulai jauh sebelum itu.

Ayahku seorang pria yang energik dan dinamis.

Mungkin karena aku anak sulungnya, itu membuat hubunganku dengan ayah lebih dekat jika dibandingkan dengan adik-adikku.

Meski kutahu ayah sangat menyayangi Hamisah karena satu-satunya anak perempuan.

Bahkan demi mendapatkan Hamisah, ayah rela bertirakat dan berpuasa.

Ayah memang sangat mendambakan anak perempuan, dan Tuhan mengabulkannya.

Akan halnya, Hamidan dan Hamidin, kedua adikku lainnya, tidak merasakan kedekatan dengan ayah karena ayah wafat di saat usia mereka masih kecil sehingga belum mengerti akan sosok ayah.

Sementara itu, ibuku mengandung adikku yang paling bungsu.

Adikku ini tidak sempat bertemu dengan ayahnya.

Namun, beberapa bulan setelah lahir, ia justru wafat menyusul ayahnya.

Seandainya, ia diberi usia lebih panjang, tentu saat ini aku memiliki dua adik perempuan, dan dua laki-laki.

Takdir memang suka berkata lain.

Kisah kematian ayah menandakan awal kesedihan Hamdan atau Aam. Selanjutnya pertualangan pun dimulai.

Sosok anak usia 10 tahun; awalnya tinggal bersama keluarganya di Jakarta, berubah total.

Bahkan, sejumlah pertualangannya dihabiskan di Padang, Sumatra Barat dan Solo, Jawa Tengah.

Berliku-liku tetapi pasti, inilah gambaran sekelumit kisah yang dihadirkan dalam novel setebal 326 halaman ini.

Inspirasi dari sebagian hidup sang penulis.

Ia mengalami kisah hidup yang berat, dikucilkan dalam sisilah keluarga, pernah berjualan minyak tanah, jadi tukang las dan yang paling heroik, saat menjadi mata-mata polisi dalam mengungkapkan kasus narkoba.

Motivasi menghadapi tantangan

Dalam Alquran, ada banyak ayat yang menjelaskan makna sebuah perjuangan, bertahan dan mengapai kemenangan.

Secara spesifik, pesan jangan menyarah juga disampaikan-Nya.

"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS Al Baqarah; 286)

Kebanyakan orang, saat menghadapi kesulitan, dia akan menyerah. Tidak sedikit yang putus asa, lalu bunuh diri. Padahal, bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Allah juga menyampaikan, dalam Surah Al Insyirah; 506, "Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."

Jika kesulitan terus dihindar, niscaya kemudahan akan menjauh. Pun jika berharap orang lain yang mengatasi kesulitan, kemudahan itu akan menjadi milik orang lain.

Hadapi kesulitan untuk mendapatkan kemudahan dari kematangan, keterampilan, dan pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Novel Jangan Menyerah, dengan latar 1970-1980-an ini menitikberatkan pesan pada kehidupan manusia agar tidak mudah menyerah dan memiliki tekad mengubah nasib.

Apalagi setiap orang memiliki kreativitas dan daya pikir sebagai modal awal untuk berjuang. Usaha yang optimal diperlukan meski takdir menentukan.

Novel ini memang terinspirasi oleh perjalanan hidup Yan Daryono sendiri. Terbagi dalam 16 bab, bagian awal kisah terasa sedih, bagian kedua menceritakan pertualangan, dan bagian ketiga sebuah kemenangan, hasil dari kesungguhan.

Yan telah merampungkan tiga novel sebelumnya, pada 1979 novel berjudul Gita Cinta di SMA. Novel keduanya, Meniti Jembatan Emas (2008).

Ia juga menulis sejumlah biografi pahlawan di antaranya, R Dewi Kartika; sang Perintis (1996).

(M-2)

________________________________________

Judul : Jangan Menyerah!

penulis : Yan Daryono

penerbit: Gramata Publishing 2017

Terbit : 2018

Tebal : 326 Halaman

Komentar