Gaya Urban

Menyelam dengan Bebas

Ahad, 28 January 2018 12:31 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

DOK KOMUNITAS SELAM BEBAS INDONESIA

SEKITAR pukul 10.00 WIB sekitar tujuh anggota dari komunitas Selam Bebas Indonesia lengkap dengan peralatan selam mereka sedang berlatih menyelam di kolam renang di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.

Latihan tersebut dilakukan rutin tiga kali dalam seminggu di tiga lokasi berbeda. Salah satu peserta yang mengikuti sesi latihan tersebut ialah Randy, 24. Ia rutin mengikuti kelas pelatihan sejak 2,5 tahun lalu.

“Awalnya ikut karena senang jalan-jalan dan snorkling, terus ngeliat orang bisa turun sampai 7-8 meter. Dari situ, mulai penasaran lalu cari-cari komunitas untuk gabung,” jelas Randy Sabtu (20/1) di Jakarta.

Dengan didorong rasa penasaran, Randy pun mencari tahu seluk-beluk olahraga ekstrem tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti kursus. Saat ini ia sudah mendapatkan sertifikat untuk level AIDA 3. “Awalnya susah, tapi free diving ini lebih ke bagaimana membiasakan di air, jadi harus sering latihan,” ungkapnya. Randy mengaku sudah free diving ke sejumlah tempat, seperti Sabang, Bali, dan Lombok.

Peserta lainnya, Jejen, 29, menuturkan ia tidak sengaja mengikuti pelatihan tersebut. Awalnya, ia senang ke laut sehingga membuatnya penasaran. “Belakangan lagi suka ke laut, terus lihat bawah laut, tapi kita enggak bisa turun. Jadi, kita enggak tahu cara turun bagaimana sebelumnya. Ada tekniknya, bagaimana safety-nya,” jelas Jejen yang sudah satu tahun ikut komunitas tersebut.

Bagi Jejen, jika hanya tahu olahraganya, tetapi tidak tahu tekniknya, akan percuma. Itulah sebabnya diperlukan pengetahuan mengenai keamanan serta bagaimana menyelamatkan diri atau teman.

“Awalnya ikut level AIDA 2 dan mulai suka lalu ikut AIDA 3. Itu seperti racun, di saat kita bisa, kita ingin tahu sejauh mana kita bisa. Jadi, menantang limit diri sendiri,” tambahnya.

Tanpa alat tangki
Instruktur free dive dari komunitas Selam Bebas Indonesia, Anton Hartanto, menjelaskan free dive ialah menyelam tanpa menggunakan peralatan bantu, seperti tangki. Alat yang digunakan hanya masker, fin (sirip), dan snorkel serta kemampuan berenang.

“Free dive wajib bisa berenang karena dasar kita kan berenang. Kalau tidak bisa berenang lalu saat melakukan penyelaman dan mau istirahat dia enggak bisa berenang, akan repot. Jadi, basic-nya memang berenang,” jelas Anton.

Meskipun teknik dasarnya berenang, lanjutnya, antara free dive dan berenang memiliki teknik berbeda. Kalau berenang, orang membuang napas, tetapi di free dive justru napasnya tidak boleh dibuang dan harus disimpan.

“Ada level-level pelatihannya. Untuk awal, itu ada AIDA 1 yang isinya cuma teori dan pengenalan kolam. Lalu ada AIDA 2, itu satu hari teori dan pool, hari kedua dan ketiga di laut. Untuk level 3, itu 3 hari, 1 hari di pool dan 3 hari berikutnya di laut. Namanya AIDA 3. Ada lagi AIDA 4 yang merupakan pelatihan untuk master,” papar Anton.

Untuk kelas-kelas tersebut, Anton memasang tarif bervariasi, mulai Rp1,5 juta untuk level AIDA 1, Rp4,5 juta untuk AIDA 2, dan Rp6 juta untuk AIDA 3.

Setelah selesai pelatihan dan dinyatakan lulus, peserta akan mendapatkan sertifikat. “Untuk sertifikasi sendiri minimal 18 tahun. Kalau di bawah 18 tahun mau ikut free dive, itu harus pakai izin orangtua. Jadi, setelah requirement terpenuhi, itu lulus. Untuk lulus di level AIDA 2, peserta harus bisa tahan napas minimal 2 menit, menyelam di kolam sejauh 40 meter dan menyelam di laut minimal 16 meter,” tambahnya.

Sebelum dapat mengikuti kelas free dive tersebut, tambah Anton lagi, peserta juga harus memiliki surat medical statement dari dokter. “Sehingga faktor kesehatan calon peserta juga memengaruhi layak-tidaknya seseorang untuk ikut kelas free dive,” pungkasnya.

Anton sendiri sudah setahun ini menjadi instruktur. Sebelum terjun ke dunia free dive, dirinya ialah pemandu wisata bahari di perusahaan travel miliknya. Para tamunya sering diajak keliling Indonesia untuk menikmati pesona bahari seperti ke Bali, Lombok, Wakatobi, dan Raja Ampat.

“Selama menjadi travel guide saya sering membawa tamu ke laut lalu setelah itu, saya baru tahu kalau ada sertifikasi free dive. Saya ambil sertifikasi free dive pada 2015, 2016, dan sampai sekarang. Jadi, melewati level AIDA 2, AIDA 3, dan AIDA 4 langsung lanjut instruktur,” tambah Anton.

Setelah menjadi instruktur, lanjutnya, ia pun mendirikan Selam Bebas Indonesia. Lulusan teknik elektro Universitas Dharma Persada itu mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan pariwisata, tetapi ia aktif pada kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala).

“Saya dulu kuliahnya malah teknik elektro. Setelah lulus, saya kerja kantoran selama delapan tahun dan kemudian berhenti dan buka travel sendiri karena saya punya basic Mapala dan saya pilih ke wisata bahari. Saya pikir masih sedikit yang terjun ke sektor wisata bahari,” pungkas pria berusia 40 tahun tersebut. (X-7)

rizkynoor@mediaindonesia.com

Komentar