MI Muda

Kartunet, Tunanetra Eksis dan Optimistis

Ahad, 28 January 2018 05:01 WIB Penulis: Fathurrozak Jek

Dok. Pribadi

BUKALAH Kartunet.com, tampilannya sederhana saja, tetapi maknanya buat para penulis dan pembacanya, istimewa. Mereka berbagi kiat agar para tunanetra, yang mengkreasikan dan sasaran utama situs ini, percaya diri dan punya pilihan, termasuk mengembangkan kariernya.

Ada pula informasi berbagai acara yang diselenggarakan berbagai pihak buat mereka yang mengalami keterbatasan penglihatan.

M Ikhwan Tariqo, sang penggagas menyakini internet bisa menjadi medium memberdayakan kawan-kawan tunanetranya. Berbekal kemauan, ia berupaya beradaptasi dengan teknologi.

Hasilnya, ia pun menjadi salah satu tunanetra yang ahli dalam bidang pemasaran internet.

Sementara itu, Kartunet.com merupakan kontribusinya buat mendongkrak aksesibilitas para tunanetra. Yuk, simak petikan obrolan Muda bareng Riqo!

Ceritakan dong bagaimana kamu merintis Kartunet.com?

Awalnya kami suka nge-blog, dalam berbagai platform blog. Kegemaran kami sebenarnya mengutak-atik platform, juga mempraktikkan bahasa pemrograman web yang sedang dipelajari.

Kemudian, salah satu founder, Mas Irawan Mulyanto, menyarankan kami (Riqo, Dimas, Aris) membuat website sebagai wadah kreasi buat teman-teman tunanetra. Kami menamakannya, kartunet, singkatan dari Karya Tunanetra.

Kamu sendiri sejak kapan akrab dengan internet?

Saya mulai bersentuhan dengan internet sejak 2004, sekitar 2 tahun beradaptasi dengan internet menggunakan aplikasi pembaca layar atau screen reader, lebih dikenal dengan sebutan komputer bicara.

Untuk belajar internet juga autodidak, setelah tahu Google, kami cari semua info dari sana.
LSM yang bergiat pada pemberdayaan tunanetra, Mitra Netra, juga menyediakan kafe internet gratis. Di sana ada perangkat komputer bicara dan internet.

Di Mitra Netra, saya juga belajar Microssoft Office, Ya awalnya, saya memang ngulik sih.

Tantangan yang dialami para teman-teman tunanetra saat berhadapan dengan teknologi informasi?

Kalau kendala, paling soal aksesibilitas, ada software yang enggak bisa diakses. Harga software accessible bagi tunanetra itu cenderung mahal. Kebanyakan kendalanya soal teknis itu.

Kartunet sudah 12 tahun nih, sudah melakukan apa saja nih bareng teman-teman tunanetra?

Kita banyak publish informasi tentang technology accessible, kemudian memfasilitasi teman-teman, seperti klub menulis, klub dongeng, sering juga mengadakan pelatihan internet marketing, Microssoft Office, dan kita sudah menerbitkan dua buku.

Kami juga sering bikin kampanye, seperti dulu bikin acara yang terbuka untuk umum dengan tema disabilitas dan pandangan masyarakat.

Bicara pandangan masyarakat terhadap disabilitas, bagaimana pendapat kamu?

Kalau secara umum sih sudah bagus, tapi dalam bidang-bidang tertentu, seperti pekerjaan masih banyak diskriminasi.

Bahkan, seperti penerimaan CPNS, tidak sesuai dengan UU. Untuk pekerjaan, peluangnya sedikit, mungkin hanya dalam bidang-bidang tertentu, bahkan malah tidak sesuai passion.

Jadi, yang harus diperhatikan lagi ya soal implementasi UU, kami membutuhkan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keahlian.

Kartunet juga memberi peluang terkait pekerjaan?

Ya, kami rutin mengadakan pelatihan yang menunjang pekerjaan dan pendidikan, serta membuka peluang mendapatkan penghasilan melalui internet marketing.

Semuanya enggak tentang marketing saja sih, ya menulis juga, tapi semuanya benang merah yang kita berikan ke teman-teman ini terkait teknologi. Kita pun pernah melakukan pelatihan literasi finansial, bekerja sama dengan beberapa bank.

Agenda kedepan kamu?

Harapannya ke depan Kartunet bisa memiliki standar akreditasi dan menyalurkan teman-teman ke lingkungan kerja di bidang teknologi. (M-1)

Komentar