Jeda

Evolusi Musik Dangdut

Ahad, 28 January 2018 14:37 WIB Penulis: Furqon Ulya Himawan

NDX A.K.A -- DOK INSTAGRAM

YOGYAKARTA ialah tempat seniman dan musisi berkreasi dan melahirkan sejumlah karya. Dalam hal musik, musisi lahir dari sana. Sebut saja Katon Bagaskara, Sheila On 7, Shaggy Dog, Endank Soekamti, Hip-Hop Jawa Klill The DJ, dan masih banyak grup musik lain. Di bagian selatan, tepatnya di Imogiri, Bantul, yang menjadi daerah pemakaman Raja Mataram, lahir kelompok musik yang dalam 3 tahun belakangan ini menjadi fenomenal, yakni NDX AKA.

Kelompok musik yang satu ini digawangi Yonanda Frisna Damara 23 dan Fajar Ari, 24. Dua pemuda kreatif dan energik itu mampu mendorong geliat ekonomi kreatif dan menjadi fenomena tersendiri bagi genre musik dangdut di Indonesia karena menggabungkannya dengan genre musik hip hop. NDX AKA sendiri ialah singkatan dari Nanda Extreme, sedangkan AKA ialah singkatan yang biasa dipakai dalam memperkenalkan nama alias, also know as.

Nanda, panggilan karib Yonanda Frisna Damara, menceritakan NDX AKA terbentuk pada 11 September 2011. Waktu itu dia masih kelas 3 SMP, sedangkan PJR, panggilan karib Fajar Ari, sudah duduk di bangku SMA.

"Namun, kami sama-sama tidak lulus SMA," kata Nanda blakblakan saat ditemui di rumahnya, Jati, Sriharjo, Imogiri, Bantul, DIY, Kamis (25/1).

Sebelum memutuskan terjun ke dunia musik, Nanda mengaku pernah menjadi buruh bangunan dengan gaji pas-pasan. Lalu tercetuslah ide membuat kelompok musik bersama PJR yang masih saudaranya. "Saya mengajak Fajar untuk bermusik bareng, sampai sekarang ini," kenang Nanda.

Pemilihan jenis musik dangdut bukanlah kebetulan. Sejak awal Nanda dan PJR memang suka musik dangdut yang sangat familier di kalangan masyarakat bawah. Mereka juga sangat menyukai musik hip hop yang saat itu dipopulerkan Marzuki Kill The DJ dengan konsep hip hop Jawa. Tanpa mereka sadari, kegemaran itu memengaruhi aliran musik yang mereka bawakan, dangdut hip hop.

"Kita dari dulu memang suka dangdut. Sejak SMP suka hip hop. Terus kalau digabung, dengernya kok enak. Ya sudah kami pilih itu sebagai aliran musik NDX AKA," ujar Nanda dan PJR. Bukan tanpa rintangan. Awal NDX berdiri, tak sedikit orang-orang yang menghina, bahkan mereka dianggap merusak citra rasa musik karena mencampur antara hip hop dan dangdut. Hinaan itu membuat NDX terpuruk.

Pada 2013, mereka sempat diterpa isu bubar. Bahkan ketika menyanyikan lagu-lagu mereka di panggung, penontonnya masih bisa dihitung dengan jari. "Kami tetap konsisten dan senang menjalaninya," kenang Nanda lagi.

Dari konsistensi itulah, paduan musik khas Indonesia: dangdut, yang digabungkan genre hip hop dengan lirik-lirik yang jujur menyuarakan keresahan anak muda yang terpinggirkan secara ekonomi, sosial, dan asmara, mereka akhirnya mulai dilirik diundang ke sejumlah kafe untuk bernyanyi. Sekarang genre musik dangdut hip hop menjadi tren dan mulai banyak yang mengikuti jejak mereka.

Pengalaman pribadi

Lirik-lirik lagu NDX sangat lugas, apa adanya dan kuat. Mewakili persoalan masyarakat yang terpinggirkan karena persoalan ekonomi. Seperti Kimcil Kepolen, Aku Cah Kerjo, dan Bojoku Ketikung. Itu semua kisah yang ada di sekitar masyarakat Indonesia dan menjadi pengalaman pribadi personel NDX.

"Paling mengena lagu Kelingan Mantan," kata Fajar lalu tersenyum sendiri dan diikuti tawa Nanda. "Seperti lagu Ditinggal Rabi," katanya lalu tersenyum.

Dalam menulis lirik pun, mereka tak punya panduan, blakblakan. Itulah yang mereka lakukan. Mewakili perasaan sendiri dan mayoritas cerita masyarakat Indonesia. Bahasa yang digunakan lugas dan apa adanya menggunakan bahasa Jawa. Sangat familier dengan kuping masyarakat Jawa sehingga mudah dipahami.

PJR mengaku, kepiawaiannya dalam membawakan hip hop disebabkan ia senang saja dan dari hati yang paling dalam. Dia tak pernah secara khusus belajar ke guru. Hanya melihat di Youtube lalu menirukannya. "Saya belajar otodidak," kata Fajar yang mengidolakan Hip Hop Jawa Kill The DJ.

Lirik-lirik yang sudah mereka bikin, lalu dibuat lagu, dan divideokan sendiri. Semua proses mereka lakukan sendiri. "Kalau sekarang sudah ada yang membantu, Mas Andi Mbendol," imbuh Nanda.

Karena autodidak dan kelugasan lirik itulah, lagu-lagu mereka mudah diterima semua kalangan, mulai anak-anak sampai orang tua. Apalagi musik mereka bergenre dangdut hip hop. Padahal, sebenarnya mereka hanya ingin menyasar generasi muda penikmat hip hop dan generasi di atasnya yang memang sangat suka dangdut.

Genre musik dangdut hip hop yang mereka bawakan mampu mengubah cara pandang sejumlah masyarakat. Yang tadinya tidak suka dangdut menjadi suka karena merasa nyaman dan enak mendengar musik NDX AKA. Mutiara, 17, misalnya. Perempuan remaja yang sudah duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA itu mengaku suka dengan dangdut gara-gara NDX AKA.

"Dulu saya tidak suka dengan dangdut. Apalagi dangdut koplo," kata Mutiara. Waktu itu, bagi Ara, dangdut cenderung lekat kepada goyangan penyanyinya yang bisa jadi sangat vulgar. Namun, genre musik NDX mampu mengubah pandangan Mutiara dan dia lebih suka dangdut yang seperti itu. "Aku langsung kepengen nonton konsernya," aku Mutiara yang pernah menonton konser NDX.

Benar, semua kalangan bisa menerima genre musik NDX AKA. Jadi jangan heran kalau sekarang fan Nanda menjadi ribuan. Fanspage resmi akun NDX AKA di Youtube sudah mencapai ribuan. Padahal, Nanda dan PJR tak pernah memikirkan itu. Baginya saat itu hanya berkarya dan terus berkarya, menyuarakan apa yang ada di hati dan problematika masyarakat Indonesia.

Namun, ada satu hal yang membuatnya pilu. Lirik lagunya ternyata tidak hanya dihafal usia tua dan muda saja, anak-anak pun menghafalnya. Seperti lagu Sayang, Kimcil Kepolen, Bojoku Digondol Bojone, Ditinggal Rabi dan lagu karya NDX lainnya. "Kami merasa bersalah," kata Nanda lalu menundukkan kepalanya dan diikuti Fajar.

Harusnya, lanjut Nanda, mereka menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan lagu anak-anak seperti Balonku Ada Lima. "Tapi kami bingung, ini yang salah kami atau orangtua mereka?" tanya mereka kemudian. Namun, apa pun itu, NDX AKA mengaku akan memperhalus lirik-lirik lagu mereka agar ketika dinyanyikan anak-anak mereka tidak terbebani. "Ke depan kami akan memperbaikinya," ujarnya, pelan, tapi pasti. (M-2)

Komentar