Jeda

Kita Sama dengan Musisi Luar

Ahad, 28 January 2018 14:42 WIB Penulis: Wnd/M-2

personil NDX A.K.A

EUFORIA masyarakat terhadap musik yang kerap disebut EDM (electronic dance music) banyak melahirkan musikus dalam negeri yang kualitasnya bisa disejajarkan dengan musisi luar negeri. Akan tetapi, seringkali terjadi salah kaprah terhadap musik upbeat yang kerap membangkitkan semangat dan membuat tubuh bergoyang ini.

Bukan sebuah genre, EDM sebuah term untuk memudahkan penyebutan karena di dalamnya penuh dengan berbagai jenis musik. Bisa dikatakan, musik EDM terdiri atas pelbagai bunyian yang dikemas secara harmonis.

Hazen Mardial, salah satu pelaku yang berkecimpung dalam musik EDM, mengatakan kualitas musisi Indonesia yang sejajar dengan musisi luar negeri. Hanya permintaannya belum terlalu tinggi. Telinga orang Indonesia sudah lebih dahulu nyaman dengan musik-musik luar negeri. Ia pun mencontohkan pilihan lagu yang ada pada tangga lagu radio banyak didominasi oleh musisi luar negeri.

"Secara pengetahuan dan kemampuan, kita itu sudah selevel. Akan tetapi, di Indonesia masih terkendala pada penerimaan pendengar sehingga kami tampil sebatas di komunitas. Padahal, kalau di luar negeri itu EDM sudah seperti musik pop," kata Mardial saat dihubungi Media Indonesia, Rabu(24/1).

Musik EDM bukan lagi identik dengan musik dugem, musik kelab malam, hingga disebut bersinggungan dengan obat terlarang. Di luar negeri, musik EDM sudah memiliki ruang luas seperti halnya musik pop yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Akulturasi

Euforia terhadap musik dengan beat cepat memunculkan kreativitas dari berbagai daerah, sebut saja salah satu musisi yang lekat dengan alat musik tradisional, Gamelawan. Menurut Mardial, apa yang dilakukan Gamelawan menjadi salah satu bentuk diferensiasi, akulturasi, juga eksplorasi karena, imbuhnya, awal musik EDM berasal dari musik rakyat.

"Electronic music ini bukan hanya milik masyarakat perkotaan. Major Lazer, misalnya, mengambil kultur rakyat Jamaica. Memang awalnya musik ini berasal dari musik rakyat. Indonesia pun sebenarnya sudah mulai sejak lama, seperti house music ataupun koplo," pungkas pria yang mulai menciptakan musik EDM sejak tahun 2011. Nama Gamelawan merupakan nama sebuah kelompok musik tradisional modern. Nama itu diambil dari musik gamelan dan awan sehingga digabung menjadi Gamelawan.

Gemelawan sudah memiliki banyak video, seperti lagu Despacito versi Jawa, Flash Light versi Jawa dan masih banyak lagi dengan jumlah viewer setiap videonya ada yang mencapai 1,3 juta penonton. Dari kreasi melalui Youtube itu, Gamelawan bisa mendapatkan 'bayaran' alias pendapatan dari videonya sekitar US$1-US$5 per 1.000 viewers, bergantung pada pasokan iklan yang masuk mengisi halaman videonya.

Dipha Barus, juga disebut Mardial sebagai salah satu contoh musisi sukses yang membawakan musik EDM bisa diterima telinga masyarakat Indonesia dengan memasukkan beragam alat musik tradisional pada lagu yang bertema No One Can Stop Us. Ada unsur Gamelan Jawa, Gong, hingga teriakan khas para penari Saman.(Wnd/M-2)

Komentar