KICK ANDY

Jangan Batasi Diri

Sabtu, 3 February 2018 01:16 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/Sumaryanto Bronto

KETERBATASAN tidak menghalangi mereka untuk berbuat baik, berkarya, dan berbagi dengan sesama.

Itulah yang membuat Risal Assor dan Nurjannah mampu menghadapi rintangan dan hambatan demi mengajari anak-anak disabilitas di SLB Centra PK/LK Negeri Sofifi meski harus menyeberang pulau.

Pasangan suami istri asal Ternate itu merupakan penyandang disabilitas. Mereka ialah Risal Assor dan Nurjannah.

Keduanya mengabdi di sekolah yang sama.

Assor mengajar musik, sedangkan Nurjannah mengajar keterampilan jahit.

Dalam mengajar, mereka membutuhkan alat bantu berupa tongkat dan kursi roda. Namun, semua itu tidak membatasi ruang gerak mereka.

Bisa dibayangkan bagaimana usaha mereka untuk sampai di tempat mengajar yang terpisah pulau sejak 2013-2014.

"Mungkin karena saya terlalu semangat untuk berbuat yang lebih baik lagi untuk adik-adik disabilitas. Jadi walaupun ombak, walaupun saya loncat ke speed (boat), itu tidak ada rasa takut atau mau jatuh karena ada semangat itu," terang Assor.

Sejak 2013 mereka harus menyeberang dengan speed boat ke Sofifi selama 45 menit. Setelah itu, mereka menggunakan bentor sejauh 4 km.

Namun, karena alasan ekonomi, pada 2016, Assor memutuskan berhenti sebagai guru honorer dan menjadi guru privat musik dan pelatih drum band.

Sementara itu, Jannah terus mengabdi di SLB Centra PK/LK Negeri Sofifi.

Guna menambah penghasilan, Jannah membuat stik bawang dan kursus menjahit.

Bahkan, dia menggratiskan peserta disabilitas dengan biaya subsidi silang.

"Kursusnya tiga orang bayar, satu orang gratis. Yang penting dia serius, mau untuk pinter, mau untuk maju," tegas Jannah.

Jannah juga tak berfokus pada untung-rugi.

Baginya, hal baik yang dilakukan lebih utama daripada bayaran yang dia terima.

"Ketika kita sudah terjun di satu bidang, terus kita lihat banyak positifnya daripada uang sedikit kalau kita dapat. Setelah lihat lebih banyak positifnya itu kok kayaknya ilmu yang kita berikan untuk adik-adik yang berkebutuhan khusus seperti keterampilan. Pada dasarnya, teman-teman yang berkebutuhan khusus kan lebih mengutamakan dan membutuhkan keterampilan dan pengembangan diri," terang Jannah.

Pantang menyerah

Pasangan suami istri ini telah memiliki lima anak.

Anak sulungnya memiliki kisah sendiri akan kondisi kedua orangtuanya.

Waktu itu saat ujian, anak sulungnya menjawab pertanyaan 'bagaimana manusia berjalan?' dengan jawaban kaki dan tangan.

"Kenapa berpikir begitu, ya karena papa kan jalannya gitu, kaki dan tangan," ujar Assor sembari menirukan jawaban anak sulungnya.

Karena keterbatasan fisik mereka, kelima anaknya kerap diejek teman-teman.

Assor dan Jannah berusaha meyakinkan anak dengan membangun kepercayaan diri sang anak.

Mereka menanamkan orangtua mereka tidak kalah dengan orangtua yang lain.

Assor dan Jannah ialah contoh mereka yang tidak menyerah dengan keterbatasan.

Tekad dan kemauan mereka untuk terus maju menjadikan mereka mampu menguasai keterampilan yang bisa dijadikan sebagai pegangan hidup.

Mereka juga tidak berhenti sampai di situ.

Keinginan untuk berbuat lebih banyak mendorong mereka untuk melanjutkan pendidikan.

Mereka lalu melanjutkan pendidikan di jurusan pendidikan luar biasa (PLB).

"Salah satunya kita harus kuliah karena dalam kuliah kita bisa dapat berbagai macam karakter dan silogis. Teman-teman yang tunanetra itu gimana, itu dipelajari. Kalau dengan tunanetra bagaimana, kalau tunarungu bagaimana," terang Assor.

Jannah berpendapat kaum disabilitas tidak boleh larut dalam kekurangan. Mereka harus punya kemampuan dan keterampilan.

Sebabnya, ia telah membuktikan disabilitas sama dengan nondisabilitas.

"Jangan terlalu larut dengan kekurangan kita karena kekurangan itu bukan penghalang untuk tetap berkarya, tetap berkreasi. Kami yang disabilitas sama dengan nondisabilitas," tegas Jannah.

Bagi mereka, tidak ada perbedaan antara penyandang disabilitas dan nondisabilitas.

Perbedaan hanya pada fisik tubuh, sedangkan talenta dan kemampuan tidak ada beda.

Yang terpenting punya kemauan untuk terus maju.

"Fisik saja sih yang membedakan, tapi talenta dan kemampuan itu sama dengan nondisabilitas. Yang penting ada kemauan pasti ada jalan," pungkas Jannah.

(M-4)

Komentar