Hiburan

Padmaavat, Sikap Politik dan Independensi Perempuan

Ahad, 4 February 2018 09:20 WIB Penulis: Thalatie K Yani

DOK. FILM PADMAAVAT

PEREMPUAN dengan pakaian serbaputih berlarian di tengah hutan dengan membidik anak panah. Ia tengah memburu kijang. Bukannya mengenai kijang, justru mata anak panah mengenai dada sang pangeran yang kelak menjadi bagian takdir perempuan tadi.

Itulah awal pertemuan Padmavati (Deepika Padukone) dengan Ratan Singh (Shahid Kapoor), raja dari Mewar, penguasa Kerajaan Chittor. Alur cerita bergulir pada kisah cinta mereka dan Padmavati ikut sang raja ke Mewar. Namun, di tengah kebahagiaan mereka berdua, sang pendeta yang memberikan restu kepada pasangan pengantin baru itu justru berkhia­nat. Akhirnya, raja menghukum pendeta untuk diasingkan ke luar kerajaan atas saran ratu. Dendam dan amarah si pendetalah yang membawa petaka pada babak berikutnya. Ia bahkan bersumpah tidak akan datang lagi ke Chittor sebelum membuat Chittor tunduk.

Pada bagian wilayah yang lain, juga kelak muncul raja kejam bernama Alauddin Khilji (Ranveer Singh). Ia membunuh paman yang juga sebagai mertua agar naik takhta. Kerakusan Alauddin Khilji membawa dampak pada pendudukan wilayah hampir separuh India, sampai tiba pada gi­lirannya bertemu dengan si pendeta buangan Kerajaan Chittor.

Perang atas Nama Kecantikan
Si pendeta yang mencoba mencari posisi barunya itu membuat terkesan Alauddin dengan membaca masa lalunya. Alauddin pun terperanjat saat si pendeta mencoba menerawang masa depannya. Belumlah lengkap bila Alauddin tidak beristri Padmavati, yang cantiknya bak ilusi. Pada titik inilah, perang atas nama kecantikan dimulai.

Ambisi Alauddin yang harus terpenuhi serta prinsip semua yang berharga ialah miliknya, mendorong ia dan bala tentaranya berbondong-bondong menuju Mewar. Terjadilah perang psikologis antara dua kubu, Alauddin dan Raja Rajput. Selama enam bulan lamanya, Alauddin mampu bertahan dari perang psikologis yang dibuat Raja Rajput. Namun, dengan kelicikannya, Alauddin mengaku menyerah. Ia pun minta diundang sebagai tamu dan dijamu di Kerajaan Chittor.

Setelah terpenuhi, Alauddin minta Ratan Singh giliran bertamu ke tenda yang masih terba­ngun milik Alauddin di luar Chittor. Ratan Singh yang berpegang teguh pada prinsip Rajputnya pun harus tunduk digondol Alauddin ke kerajaannya sebagai strategi agar ia bisa melihat Padmavati.

Pada babak inilah, peran Padmavati terlihat mendominasi saat ia menyusun strategi pengambilan sang raja dan mengelabuhi Alauddin. Padmavati memimpin tentara milik suaminya berangkat ke Kerajaan Alauddin. Namun, peristiwa ini justru membuat Alauddin kalap dan kembali ke Chittor untuk berperang sungguhan.

Kontroversi
Padmavati adalah film epik Bollywood yang indah, tapi tragis. Dilihat dari set, wardrobe, dan properti yang digunakan, pasti biaya yang dikeluarkan mencapai bujet yang fantastis. Itu menjadi tidak sia-sia dengan keha­dirannya yang sempat menuai polemik ini sehingga harus mundur waktu rilis, yang awalnya dijadwalkan rilis Desember 2017. Meski film itu sudah dirilis, badan sensor Malaysia melarang penayangan film ini.

Padmavati berhasil menggambarkan sosok perempuan perkasa di Rajashtan pada abad pertengahan, yang mandiri dan independen. Maka, boleh dikatakan, Padmavati ialah sikap politik dan independensi perempuan. Meski sang suami enggan menerima pendapat dan saran Padmavati, toh justru melalui sikap yang diambil Padmavati, ia mampu menyelamatkan Ratang Singh, sang suami.

Meski harus melakukan jauhar, tentu itu justru menjadi kemenangan terbesar Chittor bersama Padmavati sehingga Alauddin tak mampu menyentuh bahkan mendekati selangkah pun. Jalan cerita yang mengambil latar belakang kerajaan ini juga lekat akan pengkhianatan. Baik di Kerajaan Chittor maupun Kerajaan Delhi yang dipimpin Alauddin. Alauddin awalnya diproyeksikan sang paman sebagai alat mengeruk kekayaan hasil rampasan perang. Namun, seperti singa yang dibesarkan, ia bukannya jinak, justru berkhianat pada sang paman dan menerkamnya. Pada masa kekuasaannya pun, Alauddin dikhianati Iitat Khan, yang juga mengincar takhta. Percobaan pembunuhan oleh Iitat Khan kepada Alauddin pun pincang sebab ia tak mudah mati. Malah Iitat yang akhirnya tak bisa mencicipi takhta selamanya.

Padmavati bukanlah film dengan latar cerita yang asing untuk penonton film Indonesia sebab kita juga memiliki sejarah tentang kerajaan-kerajaan dan memiliki perempuan perkasanya, seperti yang terdapat dalam buku Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa abad ke-18 sampai ke-19, karya Peter Carey dan Vincen Houben.

Dalam buku itu, diceritakan perempuan di kerajaan Jawa Tengah Selatan, pada abad ke-18 hingga akhir Perang Jawa, yang hidup dengan latar kerajaan, keraton, mampu menembus batas-batas dunia yang dianggap lekat dengan laki-laki, seperti bisnis dan berada di depan garis perang.

Begitu pula Padmavati, yang pembuatan filmnya terinspirasi dari kumpulan puisi ini, memperlihatkan keperkasaan perempuan bahwa mereka juga setara dan bisa melakukan pekerjaan laki-laki. (*/M-4)

Komentar