Humaniora

Gakkum LHK dan Kepolisian Selidiki Kematian Orang Utan di TN Kutai

Kamis, 8 February 2018 17:45 WIB Penulis: Dhika Kusuma Winata

AFP

BALAI Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Kalimantan bergabung bersama-sama dengan Polda Kalimantan Timur dan Polres Kutai Timur melakukan penyelidikan atas kematian seekor orang utan yang ditemukan di kawasan Taman Nasional (TN) Kutai, Kalimantan Timur.

Kepala Seksi Wilayah II Samarinda BPPHLHK Wilayah Kalimantan, Annur Rahim, mengatakan pihaknya tengah meminta keterangan dari warga setempat yang menemukan keberadaan orang utan tersebut di sekitar Telaga Bening, kawasan TNK, tepatnya di Desa Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur. Adapun pihak kepolisian juga sudah mulai menyusuri lokasi tersebut.

"Dari BPPLHK, Polres Kutai Timur, dan Polda Kaltim sepakat untuk kolaborasi menindaklanjuti kasus ini untuk mencari pelakunya. Tim penegakkan hukum kami menurunkan lima orang. Kita masih meminta keterangan dari para pihak termasuk warga sekitar, pihak Centre for Orangutan Protection (COP), dan Balai TN Kutai," kata Annur Rahim saat dihubungi, Kamis (8/2).

Ia menambahkan mayat orang utan yang tewas sudah dipindahkan dari Rumah Sakit Pupuk Kaltim di Bontang ke kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kaltim yang berlokasi di Samarinda. Jenazah dimasukkan ke lemari pendingin demi kepentingan penyelidikan sebagai barang bukti.

Keberadaan primata berusia 5-7 tahun tersebut diketahui oleh warga Desa Teluk Pandan pada Sabtu (3/2). Sehari setelahnya, warga melapor ke Balai TN Kutai. Satwa dilindungi itu dievakuasi dalam kondisi kritis ke kantor Balai TN Kutai pada Senin (5/2). Nyawanya tidak tertolong dan tewas pada Selasa (6/2) dini hari.

Hasil autopsi yang dilakukan mendapati orang utan tewas disebabkan infeksi dan trauma akibat luka tembak peluru senapan angin. Terdapat 130 peluru di seluruh tubuhnya. Ada pula 19 luka terbuka lainnya yang diduga akibat senjata tajam.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) langsung mengerahkan lima tim dari Balai TN Kutai untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa.

Tim disebar ke lima desa yakni Desa Teluk Pandan, Desa Sangatta Selatan, Desa Sangkima, Desa Rantau Pulau, dan Desa Menamang. Itu untuk mensosialisasikan cara menghalau orang utan yang turun ke permukiman atau lahan warga secara aman.

"Juga untuk mensosialisasikan Surat Edaran Dirjen KSDAE yang baru diterbitkan awal Februari ini tentang kerja bersama perlindungan dan penyelamatan orang utan di Kalimantan," kata Kepala Subdit Pengawetan Jenis Ditjen KSDAE KLHK, Puja Utama.

Tim yang dikirim juga akan membentuk saluran komunikasi bersama melalui platform Whatsapp antara kepala desa, tokoh masyarakat, Balai TN Kutai, Babinsa, dan Babinmas. Itu dimaksudkan agar komunikasi bisa berjalan cepat jika ditemukan satwa liar di lahan masyarakat. Berdasarkan data Balai TN Kutai, jumlah orang utan yang berada dalam kawasan taman nasional tersebut sebanyak 1.931 individu.

"Dirjen KSDAE menghimbau masyarakat agar berpartisipasi aktif melaporkan gangguan satwa liar," tandasnya. (OL-6)

Komentar