Internasional

Polusi di Bangkok Membahayakan, Anak-Anak Dilarang ke Luar Rumah

Kamis, 8 February 2018 20:37 WIB Penulis: Antara

Ist

WARGA Bangkok, salah satu tujuan wisata utama dunia, pada Kamis (8/2), diperingatkan bahwa mutu udara kota itu mencapai tingkat berbahaya beberapa hari setelah pengendali pencamaran negara tersebut meminta penduduk memakai masker wajah.

Sorotan terhadap pencemaran udara di Ibu Kota Thailand itu meningkat dalam beberapa pekan belakangan dengan penduduk mengeluhkan masalah asap dan pernapasan. Beberapa sekolah ditutup pada Kamis atau meminta anak-anak tetap di dalam rumah.

Rumusan baku mutu udara (AQI) biasanya mencakup hingga enam penvemar utama termasuk PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida dan ozon di permukaan tanah.

Departemen Pengendalian Pencemaran melaporkan keberadaan debu PM 2.5 di Bangkok pada tengah hari Kamis dan diukur pada 72-95 mikrogram per meter kubik, dengan kemungkinan meningkat.

Hitungan itu dibandingkan dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan rata-rata tahunan tidak lebih dari 10 mikrogram. PM 2.5 merupakan campuran tetesan cairan dan partikel padat yang bisa meliputi debu, kotoran, jelaga, dan asap.

"Kami telah memperingatkan kelompok berisiko termasuk orang sakit, orang tua, dan anak-anak. Kami telah memperingatkan bahwa mereka tidak boleh melakukan kegiatan di luar rumah," kata Suwanna Tiansuwan, Wakil Direktur Jenderal Departemen Pengendalian Pencemaran.

Tiansuwan mengatakan bahwa kurangnya angin dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan polusi menumpuk di udara.

Departemen tersebut melaporkan AQI di daerah pusat Kota Bangkok telah mencapai tingkat yang tidak sehat pada sore hari. Aplikasi telepon seluler Air4Thai, yang menunjukkan pembacaan Departemen Pengendalian Pencemaran, tidak memperhitungkan PM 2.5 atau partikel halus yang merupakan risiko terbesar bagi kesehatan manusia. Data dari aplikasi smartphone AirVisual Amerika menunjukkan pembacaan 154
AQI untuk Bangkok.

"Kami telah menerima informasi dari sekolah anak perempuan saya bahwa mereka memantau tingkat polusi dan akan menjaga anak-anak di dalam rumah sampai membaik," kata Joanna Lorgrailers, salah satu orang tua murid yang tinggal di Bangkok.

Beberapa sekolah internasional di kota ini telah memasang alat pengukur polusi udara mereka sendiri, kata orang tua, dan berhubungan dengan sekolah internasional lainnya di kota-kota dengan tingkat polusi udara tinggi untuk membahas cara-cara untuk membatasi pemaparan pada anak-anak.

Suwanna mengatakan bahwa pihaknya bersiap menyediakan pengukuran zarah halus atau PM 2.5 pada gawainya. (OL-2)

Komentar