Internasional

100 Pasukan Pemerintah Tewas

Jum'at, 9 February 2018 02:16 WIB Penulis: (AFP/Arv/I-2)

AFP PHOTO

TENTARA koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) telah membunuh setidaknya 100 tentara pemerintah dan pejuang sekutu sebagai pembalasan atas serangan di Suriah timur, yang diklaim sebagai salah satu insiden paling mematikan. Percikan api berlangsung pada jam-jam tidak sibuk, Kamis (8/2), yang dipicu serangan yang dilakukan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) Kurdi di Provinsi Deir Ezzor. Bentrokan tersebut terja­di dengan latar belakang kete­gangan yang meningkat antara Washington dan Damaskus karena tudingan dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim tersebut dan milisi sekutu.

Washington telah beberapa kali menuding pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia kala menghadapi pasukan pejuang. AS melontarkan tudingan itu di beberapa kesempatan pada bulan lalu. Menurut Komando Pusat AS, penasihat koalisi juga hadir di lokasi serangan tersebut. “Koalisi melancarkan serangan terhadap pasukan yang menyerang untuk menghentikan tindakan agresi mereka,” katanya. “Kami memperkirakan lebih dari 100 pasukan pro-rezim Suriah terbunuh saat melibatkan SDF dan pasukan koalisi,” tambah pejabat militer AS yang menolak disebutkan namanya.

Lebih lanjut, pejabat tersebut menuturkan, SDF dan koalisi tersebut menargetkan pasukan penyerang dengan serangan udara dan artileri setelah 20 sampai 30 tembakan artileri dan tank mendarat sejauh 500 meter di lokasi markas SDF. Menurut Syrian Observato­ry for Human Rights, pihaknya mengonfirmasi ada 20 orang tewas di antara rezim dan pa­sukan sekutu dalam serang­an awal terjadi di dekat Khasham. Kota itu terletak di sepanjang Sungai Efrat, sebelah tenggara Ibu Kota Provinsi Deir Ezzor. “Pasukan rezim menyerang posisi SDF di beberapa desa dan ladang minyak dengan tembakan artileri,” ujar Rami Abdel Rahman, kepala kelompok pemantau yang berbasis di Inggris itu.

“SDF menanggapi dengan tembakan artileri di posisi rezim di Kota Khasham sebelum intervensi pasukan koalisi,” lanjutnya. Pasukan rezim dan SDF terlibat dalam beberapa pertempuran di daerah tersebut tahun lalu, karena mereka melakukan operasi paralel melawan beberapa benteng terakhir kelompok pejuang Islam. Media pemerintah mengakui bahwa apa yang disebutnya kekuatan rakyat ini menargetkan Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi, yang didukung koalisi dan menjadi tuan rumah para penasihatnya di basis-basisnya. Kantor berita negara SANA mengatakan bahwa pejuang yang dilanda koalisi tersebut memerangi kelompok teroris dan SDF Daesh, merujuk pada kelompok jihad Daesh dan milisi yang didominasi Kurdi. (AFP/Arv/I-2)

Komentar