Internasional

Korut Parade Militer Jelang Olimpiade

Jum'at, 9 February 2018 06:31 WIB Penulis: Irene Harty

AFP/KCTV

KOREA Utara (Korut) menggelar parade militer di Pyongyang kemarin untuk memperingati 70 tahun angkatan bersenjata negeri itu. Negeri komunis tersebut memamerkan milis balistik antarbenuanya.

Parade ini digelar sehari sebelum dibukanya Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan (Korut) itu. Korut yang berpartisipasi dalam olimpiade mengirimkan rombongan atlet, ratusan pemandu sorak perempuan, dan saudara perempuan Presiden Kim Jong-un ke negara serumpunnya itu.

Resimen tentara berbaris di Lapangan Kim Il-sung, yang diikuti truk, artileri, tank, dan terakhir empat rudal Hwasong-15 raksasa serta sebuah kelompok musik yang membentuk formasi victory (kemenangan) dalam bahasa Korea.

Kembang api dinyalakan saat Jong-un hadir di mimbar untuk menonton parade dengan didampingi istrinya, Ri Sol-ju, dan Kepala Pemerintahan seremonial Kim Yong-nam, yang akan memimpin delegasi Pyongyang ke olimpiade pada Jumat (9/2).

Yong-nam dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden Korsel, Moon Jae-in, dalam acara makan siang keesokan harinya.

"Kami ... mampu menampilkan perawakan kami sebagai kekuatan militer kelas dunia ke seluruh dunia," kata Jong-un yang mengenakan mantel hitam panjang dan fedora hitam.

Dia menambahkan, militer harus tetap sangat waspada untuk memastikan musuh tidak melanggar kedaulatan Utara 'meskipun hanya 0,001 mm'.

"Panjang umur!" teriak tentara yang berkumpul dalam suhu di bawah titik beku. Bahkan, beberapa di antaranya menangis saat melihat pemimpin mereka.

Berbeda dengan parade tahun lalu yang digelar pada April 2017, Korut mengubah peringatan militernya menjadi 8 Februari. Televisi pemerintah juga tidak lagi menayangkan secara langsung tapi beberapa jam kemudian.

Korut juga biasanya mengundang ratusan wartawan asing untuk memamerkan parade ke seluruh dunia tapi tidak untuk kali ini.

"Sepertinya Korea Utara memikirkan potensi reaksi dari masyarakat internasional dan melonggarkan skala dan pesan acara ini," kata Lim Eul-chul, profesor Kajian Korea Utara di Universitas Kyungnam.

Analis juga melihat adanya pendekatan ganda dengan Korut ingin menormalkan statusnya sebagai 'negara nuklir de facto' dan mencoba melemahkan sanksi untuknya atau membuat hubungan Korsel dan Amerika Serikat berjarak.

Dikritik

Bersamaan dengan digelarnya parade militer Korut, Wakil Presiden AS Mike Pence tiba di Korsel untuk menghadiri upacara pembukaan di Pyeongchang pada Jumat (9/2).

Namun, pejabat senior Kementerian Luar Negeri Korut, Cho Yong-sam menegaskan negerinya tidak berniat untuk bertemu dengan otoritas AS tersebut.

"Ada kemungkinan untuk melakukan pertemuan dengan orang Korut, informal, atau dalam pertemuan. Kami harus menunggu dan melihat dengan tepat bagaimana hal itu terjadi," papar Yong-nam.

Olimpiade Musim Dingin menjadi pemicu diadakannya sejumlah pendekatan Korut-Korsel di Semenanjung Korea. Di antaranya, kedua negara sepakat untuk berparade bersama pada upacara pembukaan dan membentuk tim hoki es perempuan bersama. Ini merupakan tim bersama Korea dalam waktu 27 tahun.

Namun, para analis memperingatkan hubungan hangat itu mungkin tidak akan berlangsung lama setelah Olimpiade.

Para pengamat mengkritik pemerintah Korsel telah memberikan konsesi terlalu banyak bagi Pyongyang. Sejumlah demonstrasi digelar untuk menolak kedatangan rombongan seni Korut pada awal pekan ini.

Utusan Washington untuk Seoul, Marc Knapper, menepis kekhawatiran terhadap upaya ofensif Utara terhadap Selatan tersebut. Dia mengatakan kedatangan delegasi Korut akan mengirim pesan yang kuat apa yang terjadi jika pemimpin membuat pilihan yang tepat untuk mengembangkan masyarakat mereka.

"Semakin banyak orang Korea Utara yang bisa datang ke sini dan melihat betapa suksesnya Selatan itu lebih baik," tukasnya.

(AFP/I-1)

Komentar