Ekonomi

Saham Mina Padi Anjlok Kehilangan Arah

Jum'at, 9 February 2018 06:21 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

Sumber: IDX/Tim MI

BUNTUT batalnya PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) menjadi pembeli siaga (stand by buyer) PT Bank Muamalat Indonesia Tbk membuat harga sahamnya merosot tajam.

Dalam perdagangan kemarin, harga saham berkode sandi perdagangan PADI itu merosot 18,37% atau 135 poin ke level Rp600 per lembar saham. Saham PADI telah jatuh sekitar Rp1.000 per saham ketimbang posisi tertingginya di Rp1.605 pada 6 Oktober 2017.

Batalnya PADI menjadi standby buyer Bank Muamalat karena conditional share subcription agreement (CSSA) atau perjanjian jual beli bersyarat Minna Padi dan Bank Muamalat berakhir pada 31 Desember 2017.

Langkah manajemen Minna Padi menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) guna meminta izin melakukan penambahan modal melalui rights issue tidak cukup meyakinkan investor bahwa akuisisi saham Bank Muamalat oleh perusahaan akan berlanjut.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan sebelumnya banyak investor yang berekspektasi cukup baik terhadap saham perseroan setelah niatan emiten meng-akuisisi Bank Muamalat.

"Sebab sebelumnya PADI berencana right issue (untuk akuisisi). Namun, kemarin hasil RUPS hanya akan menjadi fasilitator, intinya belum ada kepastian PADI mau masuk ke Bank Muamalat atau tidak. Terlebih RUPS-nya setuju rencana right issue guna menambah modal kerja sama investasi," ujar Lanjar saat dihubungi, kemarin.

Untuk jangka pendek, dia melihat lihat belum ada sentimen positif yang mampu mengangkat harga saham emiten tersebut.

Sebelumnya, Direktur Minna Padi, Harry Danardojo, mengatakan sekarang ini pihaknya masih melakukan pembicaraan dengan Bank Muamalat. Namun, karena CSSA sudah berakhir, Minna Padi tidak akan menjadi stand by buyer dari right issue Bank Muamalat.

Minna Padi juga masih melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai hal tersebut.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menghitung PADI memiliki aset jauh di bawah Bank Muamalat. "Sehingga hemat saya tidak mungkin PADI bisa melakukan akuisisi terhadap Bank Muamalat," ujarnya.

Adapun right issue yang mereka lakukan, kata Nafan, belum terlihat mengarah ke akuisisi Bank Muamalat.

"Saya perhatikan PADI memiliki PER yang sangat tinggi, yakni 156.03x sehingga secara valuasi sudah dianggap sangat kemahalan. Saat ini mereka masih belum memungkinkan mengingat aset yang dimiliki Muamalat sangat besar," tukas Nafan.

Sementara itu, kemarin, indeks harga saham gabung-an di Bursa Efek Indonesia ditutup menguat 9,76 poin ke level 6.544,63 seiring dengan pergerakan bursa saham di kawasan Asia.

Investor asing yang kembali melanjutkan aksi lepas saham sebesar Rp765 miliar menjadi faktor penahan kenaikan IHSG.

(E-1)

Komentar