Megapolitan

Soal Becak, Anies Baswedan Diminta Berpikir Jauh ke Depan

Jum'at, 9 February 2018 10:06 WIB Penulis:

MI/Pius Erlangga

KEBIJAKAN Gubernur DKI Anies Baswedan melegalkan becak mendapat tanggapan miring dari warga Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Dewi Sumawati, 43, menilai kebijakan yang diambil Gubernur DKI, terlalu terburu-buru. Semestinya dipikirkan panjang ke depan agar benar-benar sesuai dengan harapan masyarakat.

“Seorang gubernur harus memikirkan dari berbagai aspek. Tidak hanya sok-sokan saja ya,” ujar Dewi, kemarin (Kamis, 8/2). Menurut dia, becak merupakan alat transportasi roda tiga yang tidak manusiawi.

Pebecak harus mengayuh pedal agar bisa melaju. Kadang tak peduli dengan beban yang ia bawa sekalipun berisiko bagi ke-selamatan penumpang. Bila melalui polisi tidur, kata Dewi, abang becak tetap saja menggenjot agar kayuhannya tidak menjadi berat.

Situasi demikian menjadi tidak nyaman bagi penumpang karena harus terbanting-banting, bahkan ada peluang becak terbalik. Apalagi bila beban barang atau penumpang yang diangkut lebih besar daripada beban si abang becak, selain lamban juga berisiko.

“Saya pernah jatuh di jalan. Dari pasar naik becak bawa belanjaan. Kebetulan yang ngayuh sudah tua. Mau marah juga enggak tega. Sejak itu saya putusin lebih baik naik bajaj daripada becak,” jelas dia.

Penolakan keberadaan becak juga diungkapkan Retnoningsih, 53, warga Penjaring-an lainnya. Retno membenarkan becak memang tidak mengeluarkan polusi bagi udara, namun tidak bisa menggaransi kenyamanan dan keselamatan penumpang.

“Saya lebih baik pakai bajaj ketimbang becak. Menurut saya, bajaj lebih nyaman, bertenaga mesin sehingga lebih cepat sampai ke tujuan. Tarifnya juga tidak jauh beda. Lagi pula ada angkutan umum sehingga becak tidak diperlukan untuk kelas Jakarta,” cetusnya.

Keberadaan becak yang memakai tenaga manusia dengan situasi lalu lintas Jakarta yang padat, menurutnya, menyumbang kemacetan di jalan raya. Sebab, laju alat transportasi tersebut paling lamban dibandingkan dengan kendaraan lain. “Tenaga manusia diadu dengan tenaga mesin ya jelas tertinggal jauh,” imbuh dia.

Namun, ada juga yang menikmati manfaat dari kehadiran alat transportasi tersebut. Rubiah, 30, salah satunya. Ibu rumah tangga ini mengaku selalu menggunakan jasa becak untuk pergi-pulang pasar. Biayanya pun terjangkau.

“Sering ke pasar, bayarnya Rp10 ribu dari rumah ke Cilincing,” ujar warga Kalibaru Timur 3 tersebut. Itulah sebabnya Rubiah menyambut baik ide Anies menghidupkan lagi becak di perkampungan Jakarta. Menurutnya, pelegalan becak bisa meningkatkan perekonomian tukang becak. “Kadang saya kasihan juga sama yang narik becak, penghasilannya sedikit,” tandas dia. (Gan/J-2)

Komentar