Ekonomi

Standar Pelayanan Tol Cikampek Ditingkatkan

Sabtu, 10 February 2018 01:16 WIB Penulis: Andhika Prasetyo

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

PT Jasa Marga belum mengajukan usul penyesuaian tarif Tol Jakarta-Cikampek kepada pemerintah, dalam hal ini Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Mereka saat ini masih fokus pada peningkatan standar pelayanan minimal (SPM) di ruas jalan itu.

Untuk diketahui, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan Tol, terutama Pasal 48 Ayat (1)-(5), pola penyesuaian tarif tol dilakukan setiap dua tahun oleh badan usaha jalan tol (BUJT). Namun, kenaikan akan tetap mempertimbangkan SPM tol yang terus dievaluasi.

Terakhir kali ruas tol yang menghubungkan Jakarta dan Cikampek itu mengalami penyesuaian tarif terjadi pada 22 Oktober 2016. Namun, PT Jasa Marga selaku pengelola Tol Jakarta-Cikampek belum memikirkan hal tersebut.

"Penyesuaian belum diajukan. Biasanya itu baru diajukan dua bulan menjelang jadwalnya. Jadi, masih jauh," ujar Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Agus Setiawan kepada Media Indonesia, kemarin.

Menurut Agus, kini di ruas tol tersebut terdapat begitu banyak pengerjaan proyek infrastruktur, seperti light rail transit dan Jakarta Cikampek Elevated, sehingga menyebabkan kemacetan. Oleh karena itu, mereka fokus membenahi standar pelayanan minimal lebih dulu.

"Kalau terkait kemacetan, berarti parameternya aksesibilitas. Dengan adanya proyek yang berjalan bersamaan, tentunya kondisi di lapangan terus kami pantau, baik melalui CCTV maupun petugas patroli. Jangan sampai terjadi gangguan pelayanan yang tidak segera ditangani," tuturnya.

Untuk menghindari gangguan di tol, ia mengungkapkan pengerjaan proyek kelas berat seperti penaikan girder atau pengecoran yang sampai memakan satu ruas tidak pernah dilakukan pada jam-jam sibuk, tetapi hanya pada malam hari mulai pukul 21.00 hingga pukul 05.00. Pengerjaan proyek ringan tetap dilakukan pada pagi hingga sore. "Tentunya dengan mengutamakan keselamatan bagi para pengguna jalan tol."

Tunda kenaikan

Agus mengatakan Jasa Marga pun terus mengevaluasi atau self-assessment untuk memastikan pelayanan selalu berjalan baik. Hasil evaluasi tersebut secara rutin dilaporkan kepada BPJT sebagai bahan pertimbangan penyesuaian tarif di setiap periode. Jika BPJT menemui berbagai indikator yang belum memenuhi SPM, kata Agus, bukan tidak mungkin penyesuaian tarif akan ditunda. Seperti Tol Purbaleunyi yang semestinya mengalami penyesuaian tarif pada tahun lalu, tetapi akhirnya diundur hingga 15 Februari mendatang.

"Tol Purbaleunyi kemarin mundur karena pelayanan rest area di kilometer 72 masih harus ditingkatkan. Kami bahkan sampai menutup rest area di Desember untuk dilakukan perbaikan. Sekarang sudah selesai jadi sudah dapat persetujuan kenaikannya tahun ini," tandasnya.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi menyatakan tarif ruas tol Jakarta-Cikampek sebaiknya jangan dinaikkan. Pasalnya YLKI melihat dalam dua tahun terakhir ruas tol tersebut tidak berfungsi optimal sebagai jalan bebas hambatan.

"Tol Jakarta-Cikampek tidak memenuhi SPM yang salah satunya ialah kecepatan rata-rata. Karena ada proyek elevated dan LRT, jadi terganggu semuanya. Tidak masuk akal kalau akhir tahun nanti tarifnya naik," ucap Tulus.

(E-2)

Komentar