Ekonomi

Produksi Biji Kakao Dalam Negeri Lesu

Sabtu, 10 February 2018 06:16 WIB Penulis: Andhika Prasetyo

ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

INDUSTRI kakao di dalam negeri selama tiga tahun terakhir menunjukkan kondisi lesu. Hal ini antara lain terlihat dari tingginya impor biji kakao tahun lalu yang mencapai 200 ribu ton atau meningkat 90 ribu ton dari 2016 yang sebesar 110 ribu ton.

"Padahal, tahun sebelumnya, rata-rata impor biji kakao hanya 70 ribu ton," ungkap Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) Soetanto Abdoellah, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan melonjaknya impor biji kakao tak lepas dari minimnya produksi di dalam negeri. Pada 2017 tercatat produksi biji kakao hanya sebesar 400 ribu ton.

Selain itu, perbedaan data pemerintah dan Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) juga menjadi persoalan. Kementerian Pertanian mengklaim produksi kakao tahun lalu sebanyak 688 ribu ton, berbeda jauh dari data Askindo yang merilis 350 ribu ton.

"Angka itu macam-macam, kami agak susah juga menentukan. Namun, kalau Dekaindo sendiri, dasar perhitungan ialah dari angka ekspor dan impor yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah ekspor yang dikonversi ke biji dikurangi jumlah impor yang juga dikonversi ke biji, kemudian ditambah perkiraan konsumsi dalam negeri ditambah biji kakao yang jelek yang tidak diekspor dan tidak tercatat BPS. Jumlahnya sekitar 400 ribu ton," jelas Soetanto.

Menurut dia, menggunakan data mana pun, seluruh jumlah yang dikeluarkan setiap pihak masih di bawah kapasitas kebutuhan industri di Indonesia. Saat ini industri dalam negeri membutuhkan sekitar 800 ribu ton biji kakao per tahun.

Untuk itu, ia minta pemerintah serius dalam meningkatkan kinerja produksi kakao, baik dengan intensifikasi maupun ekstensifikasi, guna memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga impor biji kakao dapat dikurangi.

Peremajaan

Saat ini tercatat total luas lahan kebun kakao hanya 1,2 juta hektare atau turun jika dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya yang seluas 1,6 juta hektare.

Soetanto menjelaskan luas lahan yang kian berkurang diperparah dengan banyaknya tanaman yang rusak dan tua. Pada tahun ini, memang ada upaya pemerintah menjalankan program peremajaan tanaman kakao meski belum begitu besar.

"Selama ini, kami lihat angka peremajaan tanaman kakao paling tinggi dilakukan pemerintah ialah 25 ribu per tahun. Itu pun tidak dilakukan berkesinambungan sehingga tidak mendongkrak produksi secara signifikan," katanya.

Namun, Soetanto mengatakan pada tahun ini ada kemungkinan angka produksi kakao masih sama dengan tahun lalu. "Untuk tahun ini ya, kalau optimistis, angka produksi sama seperti tahun lalu. Meski sebenarnya ada ramalan turun karena faktor peralihan lahan garapan dari kakao ke tanaman lain seperti kelapa sawit, padi, jagung. Juga, iklim yang tidak menentu jadi faktor lain," ujarnya.

Deputi II Bidang Pertanian dan Pangan Kemenko Perekonomian Musdalifah tidak membantah lesunya kinerja kakao di dalam negeri. Hal ini terlihat dari produksi yang dihasilkan petani hanya sekitar 0,4 ton per hektare. "Padahal, jika dimaksimalkan, hasil yang dapat dicapai bisa hingga 0,7 ton per hektare," tuturnya.

(E-3)

Komentar