Ekonomi

Surplus Neraca Pembayaran Capai US$11,6 Miliar

Jum'at, 9 February 2018 05:46 WIB Penulis: Try/E-3

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

INDONESIA menikmati surplus neraca pembayaran sebesar US$11,6 miliar sepanjang 2017, menurun tipis jika dibandingkan dengan surplus 2016 yang sebesar US$12,1 miliar.

Berdasarkan Statistik Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang diumumkan Bank Sentral, surplus tersebut masih ditopang faktor yang sama dengan 2016, yakni kepercayaan investor yang membuahkan aliran deras investasi langsung dan portofolio sehingga salah satu komponen NPI, yakni neraca transaksi modal dan finansial, berbuah surplus US$29,9 miliar atau naik jika dibanding 2016 yang sebesar US$29,3 miliar.

"Hal itu sejalan dengan membaiknya persepsi investor terhadap prospek perekonomian domestik," ujar Deputi Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Junanto Herdiawan, di Jakarta, kemarin.

Seperti dikutip dari Antara, Junanto mengatakan khusus untuk triwulan IV 2017, surplus NPI sebesar US$1 miliar. Adapun surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan IV 2017 sebesar US$6,5 miliar karena surplus investasi langsung dan investasi portofolio.

Meski tetap surplus pada kuartal IV, neraca transaksi modal dan finansial menunjukkan perlambatan ketimbang kuartal III 2017 karena dana keluar dari investasi langsung di sektor migas, dan menurunnya surplus investasi portofolio sebagai dampak keluarnya dana asing setelah sentimen pasar dibayangi ketidakpastian ekonomi global.

Komponen lain dalam NPI ialah neraca transaksi berjalan. Di 2017, neraca transaksi berjalan masih mencatat defisit sebesar US$17,3 miliar atau 1,7% dari PDB. Namun, itu lebih baik ketimbang defisit tahun 2016 yang sebesar 1,8% dari PDB.

Ia mengatakan perbaikan defisit transaksi berjalan karena peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas. Namun, masih ada lubang defisit karena meningkatnya impor migas, defisit neraca jasa sektor transportasi, dan neraca pendapatan primer terutama untuk pembayaran repatriasi hasil investasi asing.

Khusus untuk kuartal IV, defisit transaksi berjalan sebesar US$5,8 miliar atau 2,2% dari PDB. "BI terus mewaspadai perkembangan global, khususnya yang memberikan risiko bagi neraca pembayaran secara keseluruhan, antara lain terkait normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju, tekanan geopolitik di beberapa kawasan, dan kenaikan harga minyak dunia."

Komentar