KICK ANDY

Sedekah Air untuk Meraih Kebahagiaan

Sabtu, 10 February 2018 02:46 WIB Penulis: FD/M-4

MI/Sumaryanto Bronto

DUA sekawan ini memutuskan banting setir dari kemegahan dan kenyamanan Jakarta untuk memberikan akses air bagi rumah ibadah di 40 daerah di Tanah Air. Muhammad Sowwan dan Muhammad Yudistira yang merupakan teman sekampus di Fakultas Ekonomi UI ialah inisiator berdirinya Komunitas Sedekah Air.

Komunitas ini berawal saat Sowwan kerap batal menunaikan salat karena tidak ada air di musala. Ia menghubungi teman-temannya untuk bergotong royong membuat pompa air untuk musala dan masjid.

Berawal dari satu musala yang mereka bantu soal pengadaan air, mereka ketagihan dan akhirnya tergerak membuat pengadaan air untuk musala dan masjid yang krisis air di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, mereka bahkan membangun sanitasi air untuk pondok pesantren.

Gerakan sedekah air yang mereka lakukan lebih pada tahap pembangunan infrastruktur berbasis masyarakat. Kata Sowwan, ada beberapa program yang dilakukan, di antaranya infrastruktur atau memenuhi kebutuhan air ketika kekeringan.

"Selain infrastruktur, kami memberikan droping air bersih ketika kekeringan atau banjir," katanya.

Sejauh pemantauan mereka di lapangan, ketersediaan air bersih menjadi salah satu persoalan utama di Indonesia. Menurut Sowwan, pertumbuhan penduduk tinggi, mencapai 238 juta, bahkan pada 2045 akan mencapai 326 juta jiwa di Indonesia.

"Maka 13% masih belum mendapatkan akses air bersih. Dengan begitu mereka akan sakit, ada beberapa penyakit yang memang muncul akibat tidak ada akses air bersih," sebutnya.

Yudistira menyebutkan, sejak 2016 Komunitas Sedekah Air mulai mendaftarkan menjadi yayasan guna memudahkan operasional dan membuka rekening. "Jika kita ingin membuatkan yayasan ini semakin besar dan manfaat yang besar, kita butuh uang yang semakin besar. Nah, jika yayasan, akan lebih mudah operasionalnya," katanya.

Yudistira menambahkan, sejauh ini mereka memiliki dua grup, yaitu tim inti sedekah air dan relawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pria yang menyelesaikan studi S-3 di Jepang itu mengatakan kekeringan dan kesulitan air juga masih ada di sekitarnya. "Terkadang kita berpikir, daerah yang kekurangan air jauh dari kita, tetapi mungkin 2 jam dari sini, ke arah Tangerang atau Serang, kita tahu daerah itu juga kekurangan air," sebutnya.

Apalagi, urusan air tidak terlepas dari sanitasi. Oleh karena itu, Yudistira mengatakan jika terdapat akses buruk untuk air bersih, begitu juga akses sanitasinya. Bila semua akses itu terbuka, masyarakat Indonesia bisa lebih sehat.

Komentar