Ekonomi

2017, BTN Capai Laba Rp3,02 Triliun

Selasa, 13 February 2018 18:40 WIB Penulis: Fetry Wuryasti

FOTO ANTARA/Henky Mohari

KINERJA PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) yang terus melaju positif sepanjang 2017 sukses mengantar perseroan mencetak laba bersih senilai Rp3,027 triliun pada 31 Desember 2017. Perolehan laba bersih tersebut tercatat naik 15,58% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp2,619 triliun pada akhir 2016.

Capaian laba bersih tersebut ditopang penyaluran kredit dan pembiayaan BTN yang naik 21,01% yoy dari Rp164,44 triliun pada Desember 2016 menjadi Rp198,99 triliun pada Desember 2017. Pertumbuhan kredit tersebut tercatat berada di atas rata-rata industri perbankan nasional, yang hanya tumbuh di level 8,2% yoy.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan perseroan terus bertransformasi dan berinovasi dalam dalam rangka menyukseskan Program Satu Juta Rumah, untuk menjangkau semakin banyak masyarakat Indonesia memiliki hunian.

"Dengan berbagai transformasi dan inovasi dalam mendukung Program Satu Juta Rumah, BTN sukses mencetak laba bersih senilai Rp3,02 triliun dan penyaluran kredit yang tumbuh sebesar 21,01% atau di atas rata-rata industri perbankan nasional,” tutur Maryono Paparan Kinerja BTN Kuartal IV/2017 di Menara BTN, Jakarta, Selasa (13/2).

Sebagai bank penyalur Program Satu Juta Rumah milik Pemerintahan Presiden Joko Widodo, Maryono menjelaskan, kredit perumahan masih mendominasi komposisi pinjaman BTN sepanjang 2017 atau mencapai 90,07% dari total pinjaman yang disalurkan perseroan.

Per Desember 2017, kredit perumahan yang disalurkan perseroan juga naik 21,14% yoy dari Rp147,94 triliun menjadi Rp179,22 triliun.

Di segmen kredit perumahan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) emiten bersandi saham BBTN ini pun terkerek naik sebesar 23,26% yoy dari Rp117,3 triliun pada triwulan akhir 2016 menjadi Rp144,58 triliun di periode yang sama tahun berikutnya.

Kenaikan tersebut juga terpantau berada di atas rata-rata industri perbankan. Bank sentral merekam, hingga akhir 2017, pertumbuhan KPR dan KPA industri perbankan nasional hanya sebesar 11,4% yoy. Dengan penyaluran tersebut, BTN juga tercatat masih menguasai pasar KPR di Indonesia dengan pangsa sebesar 36,3%. Kemudian, di segmen KPR Subsidi, BTN menjadi pemimpin pasar dengan pangsa sebesar 95,42%.

Maryono memaparkan, KPR Subsidi mencatatkan laju pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 32,45% yoy dari Rp56,83 triliun menjadi Rp75,27 triliun pada Desember 2017. KPR Non-Subsidi pun tercatat naik 14,62% yoy menjadi Rp69,3 triliun pada akhir 2017 dari Rp60,46 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Kemudian, kredit konstruksi BTN juga naik 18,98% yoy dari Rp21,92 triliun menjadi Rp26,08 triliun pada akhir 2017. Lalu, kredit perumahan lainnya tercatat senilai Rp8,56 triliun pada Desember 2017.

Kredit nonperumahan di emiten bersandi saham BBTN ini juga terpantau naik sebesar 19,78% yoy dari Rp16,49 triliun menjadi Rp19,76 triliun pada kuartal IV/2017. Kenaikan tersebut ditopang peningkatan kredit konsumer sebesar 1,59% yoy menjadi Rp4,81 triliun dan kredit komersial sebesar 27,12% yoy menjadi Rp14,95 triliun pada akhir 2017.

Laju positif penyaluran kredit tersebut juga diikuti dengan perbaikan kualitas kredit. Rasio NPL perseroan pada 2017 tercatat sebesar 2,66% (gross) dan 1,66% (nett). Angka tersebut turun dibandingkan 2,84% (gross) dan 1,85% (nett) pada tahun sebelumnya.

Pada 2017, rasio penurunan NPL terbesar perseroan berasal dari segmen kredit komersial turun 1,12%. Penurunan tersebut terjadi baik dari sisi rasio maupun nilainya.

Rasio NPL untuk KPR subsidi juga cenderung turun sebesa 0,37% di mana saat ini rasio NPL-nya mencapai 1,26%. Meski secara umum NPL dalam tren turun, Direktur BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, KPR nonsubsidi mengalami sedikit kenaikan, yaitu 0,36%.

"Yang sedikit mengalami permasalahan adalah KPR nonsubsidi yang mengalami sedikit kenaikan," jelas Nixon.

Untuk memperbaiki rasio kredit bermasalah pada segmen KPR nonsubsidi, BTN melakukan serangkaian upaya. Salah satu di antaranya adalah penjualan dan pelelangan.

Selain itu, BTN juga melakukan restrukturisasi terhadap rumah-rumah yang masih dihuni dan pemiliknya memiliki penghasilan tetap. Bank juga secara aktif menawarkan penundaan pembayaran pokok selama 1 hingga 2 tahun kepada nasabah. Hal ini dapat menurunkan rasio kredit bermasalah perseroan secara signifikan.

"Yang kami lakukan belakangan ini adalah penyehatan dan restrukturisasi beberapa akun komersial," ujar Nixon.

Nixon mengungkapkan, hingga akhir 2017, cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang dipasang BTN mencapai 43%. BTN, kata dia, mendorong agar CKPN dapat ditingkatkan ke angka 50%.

"Memang tidak mungkin ke 100%, karena KPR kita di-cover fixed asset berupa rumah dan tanah," ungkap Nixon. (OL-6)

Komentar