Ekonomi

Aliansi Minyak Sawit Eropa Bantu Hadapi Resolusi UE

Rabu, 14 February 2018 09:20 WIB Penulis: Andhika Prasetyo

ANTARA

TIDAK semua masyarakat Uni Eropa (UE) menjegal upaya perdagangan hasil kelapa sawit Indonesia. Salah satunya ialah European Palm Oil Alliance (EPOA).

Lembaga yang berisikan pelaku industri sawit di ‘Benua Biru’ itu siap membantu Indonesia melawan resolusi minyak sawit yang digulirkan Parlemen UE. Ketua EPOA Frans Classeen menilai industri sawit di Indonesia sudah dijalankan dengan sangat baik dan mendukung pencapaian tujuh kriteria pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) seperti penanggulangan kemiskinan, pengembangan ekonomi wilayah, juga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, masih banyak kesalahpahaman informasi tentang produk hasil perkebunan sawit sehingga banyak kebijakan di Eropa yang diskriminatif termasuk implementasi food labeling.

Maka itu, pihaknya akan berusaha menunjukkan fakta-fakta sesungguhnya tentang kelapa sawit, dari manfaat hingga isu-isu keberlanjutan.

“Yang kami lakukan bukan bantuan promosi. Kami ­ingin memberikan pandangan seimbang dan objektif tentang sawit. Kami menyadari kita semua saling membutuhkan,” ujar Frans di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, akan berat bagi Indonesia untuk menentang 28 negara yang tergabung dalam UE. Terlebih, mereka memiliki sudut pandang dan kebudayaan yang berbeda sehingga butuh pendekatan berbeda untuk menjelaskan kepada negara-negara itu.

“Harus ada pendekatan yang terstruktur untuk berbicara dengan mereka. Kami sudah memulai itu dan akan kami terus lanjutkan ke semua pihak, pengusaha, politisi, pemerintah,” tuturnya.

Pada intinya, EPOA menginginkan level aturan permainan yang sama untuk semua produk minyak nabati. “Tidak boleh ada diskriminasi agar kompetisi baik dan seimbang dapat terwujud.”

Tidak tercapai

Pada pertengahan Januari 2018, Parlemen UE memutuskan menghentikan penggunaan biofuel berbahan dasar kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan pada 2021.

Resolusi itu dikenal sebagai Deklarasi Amsterdam.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Danang Girindrawardana merespons positif dukungan EPOA. EPOA mampu melihat persoalan sawit dari sisi ekonomi dan sosial. Pasalnya, jika resolusi itu nantinya diterapkan, akan ada 4,4 juta petani Indonesia yang terdampak dan ini akan membuat target SDGs tidak tercapai.

“Itulah yang akan jadi pokok pembicaraan saat bertemu dengan parlemen, dewan, dan komisioner pada 28 Februari 2018.” Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan menegaskan ­pascakemenangan Indonesia atas gugatan terhadap Uni Eropa terkait dengan pengenaan bea masuk antidumping pada produk biodiesel Indonesia dalam panel Badan Penyelesaian Sengketa WTO pada Januari 2018, pihaknya sudah siap mengekspor kembali. “Tahun lalu kami proses dan akhirnya tahun ini (gugatan) menang. Kami sudah siap ekspor ke Eropa kembali.”

Terakhir kali, produk bio-diesel Indonesia masuk ke Eropa pada 2014 dengan total 1,8 juta kiloliter. Paulus pun berharap jumlah ekspor tahun ini dapat menyentuh angka yang sama saat terakhir kali diekspor. (E-3)

Komentar