Weekend

Klasik nan Modern saat Imlek

Ahad, 7 February 2016 10:05 WIB Penulis: Thalatie K Yani

MI/Adam Dwi

PERAYAAN tahun baru Tionghoa (Imlek) menjadi momen silaturahim keluarga. Tidak sebatas angpau atau sembahyang di kuil, berbagai menu khas turut meramaikannya. Salah satunya di Hotel Ritz-Carlton yang menyediakan Makan Malam Tahun Baru Tionghoa pada 7-8 Februari.

Berbagai menu khas Tionghoa yang cocok dengan lidah orang Indonesia tersaji dalam format buffet. “Pengunjung memang tidak terlalu Chinese banget, pengunjung kami itu tidak expect seperti datang ke restoran Chinese. Kita memang benar-benar mix semua cita rasa. Yang penting masuk ke mulut orang Indonesia,” ujar Dodiek Triwandaya, Chef Ritz-Carlton di Jakarta, Kamis (21/1)

Salah satu menu andalan ialah ke­piting soka goreng dengan nasi goreng pecinan. Menu itu diakui Dodiek terins­pirasi dari nasi hainam. Bila biasanya nasi hainam didampingi ayam, di menu ini diganti kepiting soka goreng. Selain menggantikan posisi ayam, kepiting identik dengan kemakmuran dalam perayaan Imlek.

“Jadi terinspirasi dari nasi hainam, dengan menggunakan bumbu jahe dan sambal merah hainam, kecap hainam. Kepiting soka digoreng crispy bertujuan memberi kekayaan tekstur dalam menu ini. Nasi hainam kan agak lembek, jadi diperkaya dengan tekstur garing dari kepiting soka,” terang Dodiek.

Tidak semata dengan nasi goreng. Kepiting soka juga ditawarkan dalam menu lain, yakni kepiting kari ala Shanghai dengan bihun. Cita rasa kari dipadu kemewahan kepiting soka, ditambah bihun memberikan sensasi berbeda. “Kita menggunakan kepiting soka orang Indonesia suka, jadi kami lebih memikirkan apa yang orang Indonesia suka,” jelas Dodiek.

Tentunya bebek peking panggang tetap menjadi primadona. Garing di luar tetapi lembut di dalam. Belum lagi rasa rempah-rempah kayu manis, cengkih, pala, dan biji merica Szechuan menambah cita rasa menu ini.

“Bebek ini digorengnya juga hanya disiram-siram tidak boleh langsung kena minyak. Memang memakan waktu namun hasil kulitnya akan crispy. Saat digigit dagingnya juga tidak basah karena sudah digantung semalaman dan cara memasaknya yang pelan-pelan,” jelas Dodiek.

Bagi pecinta ikan, Ritz-Carlton menyediakan tim ikan kakap dengan saus kecap superior (ginger soya). Menu tradisional ini dikukus dengan bawang putih, jahe, saus kecap spesial. Dilengkapi irisan daun bawang dan daun ketumbar yang mengeluarkan aroma pemikat.

“Memilih seabass (kakap) karena tidak semua orang menyukai bandeng. Kami memilih seabass karena dagingnya lebih halus dan teksturnya lebih lembut,” terang Dodiek.

Merakyat
Berbagai menu Tionghoa tersedia, termasuk bakmi pangsit dengan ceker ayam dan lontong Cap Go Meh. “Pengunjung bisa merasakan juga kemewahan dari kepiting soka, bebek peking. Kalau mau merasakan makanan yang down to earth bisa merasakan bakmi, lontong Cap Go Meh,” ujar Irma Soekamto, Public Relation Hotel Ritz-Carlton.

Meski terkesan biasa, ramuannya berbeda. Mi yang digunakan ialah Hokkian Noodle. Pengunjung bisa memilih jenisnya bisa keriting, lurus, atau tebal. Bakmi disajikan dengan tim ceker ayam dengan rasa manis dan gurih, dilengkapi pangsit wonton rebus isi ayam gurih.

Di sisi lain, lontong Cap Go Meh yang biasanya disajikan hari ke-15 pascaimlek juga tersedia. “Lontong Cap Go Meh yang biasanya disajikan 15 hari setelah Imlek juga disajikan karena kita lebih berpikir internasional. Jadi kami menyiapkan agar pengalaman Imlek-nya lebih komplet bagi pengunjung,” seloroh Dodiek

Meskipun banyak menu modern, Ritz-Carlton tetap menjaga tradisi Imlek dengan menghadirkan menu klasik Imlek Yee Shang atau salad ikan. Ikan salmon disandingkan dengan irisan halus mentimun, rumput laut, wortel, dan lobak. “Ikan melambangkan kemakmuran kemudahan dan warna-warna cerah yang melambangkan kesehatan,” kata Dodiek.

Untuk menikmati paket Imlek di Ritz, cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp688 ribu++ per orang. Harga itu sudah termasuk minuman berupa es teh, teh lemon, minuman ringan, dan jus buah. (*/M-1)

miweekend@mediaindonesia.com

Komentar