Weekend

Bukan cuma Membangun Rumah

Ahad, 7 February 2016 14:00 WIB Penulis: Bintang Krisanti

MI/Atet Dwi Pramadia

SERBAPANJANG, begitulah Mande Austriono mengakui proses mewujudkan rumah idamannya. Meski ia punya mimpi sejak 2011, baru tahun ini cita-cita arsitek berusia 31 tahun itu bakal terwujud.

Namun, pemilik studio kreatif DForm itu tidak menyesali karena lewat jalan panjang itu ia bisa mewujudkan hunian kolaboratif (cohousing) modern yang selama ini seperti sulit diwujudkan. Sebelum Mande, konsep cohousing modern memang sudah disuarakan pengamat tata kota, Marco Kusumawijaya, pada 2009.

Perjalanan Mande membentuk cohousing mulai menjadi kenyataan pada 2013. Setelah konsep itu disebarkan lewat Twitter, termasuk oleh temannya yang seorang buzzer, Mande berhasil menarik minat sekitar 200 orang, termasuk dari luar Jakarta.
Dari berdiskusi di dunia maya, Mande kemudian rutin membuat ajang kumpul tiap Selasa di Roti Bakar Eddy, Kebayoran Baru, Jakarta. Di situ diskusi mewujudkan hunian swadaya makin kental.

"Ada yang ingin bikin di Depok, Bekasi, dan Bintaro. Jadi, akhirnya terbentuk geng Depok, Bekasi, dan lainnya. Nah, saya ikut geng Bintaro karena ingin punya rumah di Bintaro. Tiap-tiap geng cari tanah masing-masing," tutur Mande yang kemudian menamakan proyek cohousing itu sebagai DFhousing, Selasa (26/1). Kepada anggota komunitas cohousing itu, ia tidak membuat banyak aturan, kecuali menggunakan jasa kantor arsiteknya.

Sejak proses pencarian tanah itu pula, proyek cohousing menjadi pelajaran pendewasaan dan toleransi bagi semua yang terlibat. Itu terjadi karena tiap biaya dibagi rata diantara semua calon penghuni, kecuali tentunya bangunan rumah yang menjadi kewajiban tiaptiap pemilik.

Segala kerepotan itu tentu tidak bakal ditemui ketika membeli hunian yang telah jadi. Hal ini pula yang menurut Mande membuat beberapa orang yang hanya ingin menjadi investor, dengan sendirinya mundur.

Dirinya memang tidak menutup jalan untuk investor bergabung. Namun Mande meminta mereka harus mau ikut dalam setiap diskusi.

DF - housing Bintaro kemudian menjadi proyek pilot Mande karena yang paling cepat bergulir. Meski sebagai inisiator dan arsitek, Mande mengaku tidak mengatur siapa yang berhak menjadi tetangganya.

Berbeda Latar
Mereka justru membuat sistem previlege berdasarkan presensi saat berkumpul tiap Selasa. Sistem itu dibuat karena lahan seluas 1.000 meter persegi di Bintaro hanya bisa memuat sembilan rumah.

Karena itu, yang berhak mengambil kaveling lebih dulu ialah yang paling sering hadir dalam kumpul Selasa. Mereka yang tidak kebagian berada di daftar tunggu.

Kini sembilan pemilik rumah di DFhousing Bintaro datang dari berbagai latar belakang, mulai kontraktor, seniman grafis, hingga pengamat politik.

Beberapa dari mereka ada yang sudah saling mengenal, tapi lebih banyak baru bertemu di komunitas itu. "Ya pasti ada stalking juga, tapi bukan lalu jadi (menghalangi) jangan sampai dia masuk sini. Memang akhirnya ya kita harus toleransi saja dengan karakter yang lain, tapi sejauh ini tidak masalah kok," jelas Panca Zarmen yang rumahnya berada di deretan terdepan.

Hal serupa juga dikatakan Darma Adhitia yang rumahnya berada di deretan kelima atau berdampingan dengan rumah Mande. Ia melihat proyek cohousing bukan cuma soal membangun rumah. "Jadi, kita sudah membangun keakraban, bahkan sebelum bertetangga," tutur pria berusia 33 tahun itu. Baginya, keakraban bertetangga memang tetap dibutuhkan meski zaman telah modern.

Untuk menjaga hubungan sosial yang telah terbangun, Pance menjelaskan mereka memiliki aturan tidak tertulis untuk tidak menjual rumah setidaknya hingga lima tahun ke depan.

Kini mengikuti keinginan para anggota newsletter cohousing tersebut, proyek DFhousing sedang diupayakan hadir di Bekasi, Yogyakarta hingga Surabaya. Tentunya, dengan proses rembug dan kolaborasi setiap orang yang terlibat. (M-2)

Komentar