Megapolitan

Mengais Rupiah dari Bisnis Birahi di Tepi Kali

Kamis, 3 March 2016 17:17 WIB Penulis: Irwan Saputra

Ilustrasi

SETIAP pagi, Parto, 42, harus membersihkan sisa-sisa kesenangan sesaat para pria hidung belang di sepanjang Taman Tubagus Angke, sekitar Jembatan Genit, Kelurahan Pesing, Jakarta Barat. Dengan menggunakan sapu lidi dan serokan, anggota Pasukan Oranye tersebut mengais plastik dan kondom bekas dari bisnis prostitusi kaki lima malam sebelumnya.

Setiap malam, sekitar 20 tenda berdiri di antara trotoar dan pagar pembatas Kali Angke di sekitar Jembatan Genit. Wanita penjaja birahi berjejer di sepanjang trotoar dengan jumlah sekitar tiga kali lipat dari bilik-bilik tenda tersebut.

Icha, 20, salah satu pekerja seks komersial (PSK) yang mangkal di Jembatan Genit, mengatakan sekali servis, dirinya menerapkan tarif Rp80 ribu. "Malam ini agak sepi, karena hujan. Harus sabar-sabar, kalau setiap hujan gak keluar, ya gak ada duit," kata Icha, Kamis (3/3).

Malam itu, Icha mengakui sudah mendapat lima tamu. Saat tamu berikutnya datang, dua orang remaja yang terlihat masih berusia belasan tahun, Icha langsung bernegosiasi.

Setelah sepakat singkat, Icha dan salah satu dari remaja itu masuk ke dalam tenda ukuran sekitar 1,5x1,5 meter dari terpal biru yang terpancang rapuh di sisi pagar tembok pembatas taman dengan Kali Angke.

Rata-rata tamu yang berkunjung hanya membutuhkan waktu 3-5 menit untuk melepaskan nafsu syahwatnya di dalam tenda yang beralaskan karpet plastik serta perlengkapan ember dan gayung itu.

"Kalau kata kasarnya di sini, kalau bahasa Jakarta, sekadar buang tai macan. Namanya sudah darurat, kalau dibilang kayak ayam ya kayak ayam. Tapi yang praktis ya disini," ujar Nur, 37, sang pemilik gubuk cinta itu.

Sudah cukup lama, pria yang baru saja digusur dari kediamannya di kolong Tol Pluit itu berbisnis di Jembatan Genit. Ia sampai lupa sudah berapa tahun. Yang jelas, jauh dari Taman Tubagus Angke belum didirikan, ia dan pasukannya sudah menyediakan jasa haram itu disini.

Nur hanya menyediakan kursi, tenda, dan air. Para PSK tidak terikat dengannya, mereka hanya membayar biaya penyewaan sarana dan prasarana yang disediakan mulai pukul 19.00 wib sampai 05.00 wib.

"Istilahnya kayak freelance gitu. Modal kita cuma kasih bangku dan tenda. Mereka bayar Rp10 ribu per tamu, kalau sama kondom Rp15 ribu. Dapat kotor setiap malam sekitar Rp200 (ribu). Namun itu belum pengeluaran" ungkapnya.

Sampai saat ini, ada tujuh PSK yang bekerja di dua bilik tenda miliknya. Namun, kata Nur, dua diantaranya masih dibina di pusat rehabilitasi milik pemerintah.

Katanya, jika ada razia, ia dan para wanita malam itu bergegas kabur. Jika ada wanita yang tertangkap, tidak ada pilihan lain dan tidak bisa diurus, mereka harus menjalankan rehabilitasi.

Pascapenggusuran pusat prostitusi di Kalijodo, ia mengatakan bahwa banyak PSK dari sana menawarkan diri untuk bekerja di tempatnya. Namun, karena tidak memiliki cukup banyak bilik dan mengurangi persaingan diantara wanita penjaja cinta di lokasinya, Nur pun menolak.

"Di tenda-tenda lain mungkin diterima, bagi yang masih kekurangan orang. Tapi kalau di tempat saya gak ada," katanya. (OL-2)

Komentar