Weekend

Rajutan Pamungkas Dewi Lestari untuk Supernova

Ahad, 27 March 2016 10:45 WIB Penulis: Hera Khaerani

MI

SEGALA hal yang memiliki awal, pasti ada akhirnya. Segala yang dimulai, juga harus diakhiri. Hal itu pun diyakini Dewi Lestari yang 15 tahun silam memulai novel serinya, Supernova.

Mengambil judul Intelegensi Embun Pagi (IEP), Dee Lestari--demikian nama pena dari anggota trio 'Rida, Sita, Dewi' ini--Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001), Akar (2002), Petir (2004), Partikel (2012), Gelombang (2014) akhirnya mendapatkan penutup manisnya.

Judul itu sebenarnya sudah di publikasikan penulis yang juga penyanyi tersebut sejak 2002, ketika terbit Akar. Dee meyakini bahwa segala hal di alam sesederhana apa pun manifestasinya, terkait dengan inteligensi luar biasa yang menggerakkan kehidupan. Demikian dengan embun pagi yang sederhana, ada inteligensi di baliknya.

Meski mungkin dimaksudkan untuk mengajak pembaca menyadari inteligensi di balik segala yang terkesan alamiah terjadi di sekeliling kita dalam kehidupan nyata, membaca lembaran kisahnya saya merasa perlu mengacungkan jempol kepada Dee. IEP membuktikan dia sebagai penulis memiliki inteligensi untuk menyelesaikan rajutan terakhir dari anak-anak pikirannya.

Buku setebal 705 halaman itu, yang sejak awal diniatkannya menjadi penutup Supernova, menyinkronkan semua cerita dari buku-buku terdahulunya. Bukan sekadar meneruskan kisah sebelumnya, IEP ialah kumpulan jawaban dari misteri yang dibiar
kan menggantung di buku sebelumnya. Sebagai konsekuensinya, buku ini menjadi pertemuan konflik-konflik lama dengan kejutan baru. Itu membuktikan betapa dia penulis yang terencana dan mampu mengeksekusinya dengan baik ibarat mengurai
jaring laba-laba yang terkesan acak namun amat berpola.

Pertemuan karakter dan konflik
Dikisahkan, setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Dia menemui Dimas dan Reuben, dua orang yang diyakininya bisa memberinya titik terang dari hilangnya Diva dalam ekspedisi di Amazon. Pasalnya, nama keduanya ada di daftar kontak darurat Diva. Mereka akhir nya sependapat, misteri hilangnya Diva bisa diungkap apabila mereka bisa menelusuri identitas sosok di balik Supernova.

Sementara itu, di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan keduanya tentang tempat bernama Asko. Pengetahuan baru mengundang rasa ingin tahu dan ketakutan di saat yang sama.

Lain halnya dengan Zarah yang pulang ke Desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglang buana. Dia harus menghadapi rasa takutnya, kecanggungan terhadap keluarga, juga kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas sang ayah. Itu hal yang belum bisa dia relakan, tak peduli seberapa jauh dia telah berkelana. Lebih kompleks, dia harus berdamai dengan dirinya sendiri.

Lalu Alfa yang dalam perjalanan dari New York menuju Jakarta mendapati teman seperjalanan bernama Kell, yang mengungkapkan hal tak terduga. Buku ini menjelaskan identitas tokoh-tokoh utama yang sesungguhnya, juga konstelasi Peretas, Sarvara, dan Infi ltran dengan mendetail. Ada kejutan berupa tokoh-tokoh sekunder yang kemudian mencuat menjadi bagian dari jajaran tokoh utama dan tokoh-tokoh pendukung dari berbagai episode yang kembali hadir di IEP.

Dari berbagai lokasi berbeda, identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas. Segala keganjilan yang mereka rasa selama hidup akhirnya terjawab, hubungan di antara mereka semua yang sama sekali asing satu sama lain perlahan terkuak.

Apakah terkuaknya segala misteri itu memunculkan rasa lega? Satu yang pasti, hidup mereka takkan pernah sama lagi.

Buku ini jelas sudah dinanti-nantikan para penikmat Supernova, tetapi tampaknya Dee pun sadar ada peluang tak semua pembaca sudah melahap buku-buku sebelumnya. Karenanya dia memberikan sedikit pengantar bagi setiap karakter agar yang belum baca Supernova sekalipun masih tetap bisa menangkap gambaran umum latar belakangnya. Kendati demikian, untuk bisa menikmati Inteligensi Embun Pagi secara utuh lalu melihat bagaimana seorang Dee Lestari bertumbuh sebagai penulis, memang akan lebih baik bila sudah membaca seri sebelumnya.

Meski fiksi yang berbicara soal dimensi lain serupa alien, tanpa menghadirkan piring terbang atau makhluk hijau, novel ini bisa menghadirkan relevansi soal kehidupan yang umum. Anggaplah segalanya ibarat metafor, maka banyak yang bisa dipelajari.

Inteligensi Embun Pagi mengajak meresapi betapa pentingnya mengedepankan kepentingan bersama,ketimbang kepentingan pribadi. Betapa perbedaan adalah hal yang indah, niscaya, sekaligus perlu. Buku ini juga menggelitik pembaca untuk mempertanyakan apakah kita sudah hidup dengan menjadi jawaban atas tujuan penciptaan kita sedari awal. (M-2)

Komentar