Inspirasi

Mengembangkan Diri tanpa Melupakan Negeri

Kamis, 19 May 2016 06:10 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/GALIH PRADIPTA

PRIBADI yang ramah menyambut Media Indonesia di lobi Hotel Atlet Century, Jakarta, Selasa (5/4), seraya mengulurkan tangan dan meminta maaf atas keterlambatannya.

Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, 45, profesor yang memiliki keahlian di bidang radar ini segera mengajak duduk santai sembari berbincang tentang banyak hal.

Keahliannya mengembangkan teknologi radar tidak datang secara tiba-tiba.

Semua akibat jatuh cinta saat diajak berkeliling di depo elektronik di Markas TNI Angkatan Udara (AU) saat usianya 4 tahun.

Sang ayah yang tergabung dalam Pasukan Gerak Tjepat TNI-AU membuat Josh kecil bisa leluasa memperhatikan setiap ragam teknologi, memperhatikan detail radar, hingga menanyakan asal usul pembuat radar.

Akan tetapi, jawaban yang diterima sempat membuatnya kecewa. Pasalnya pembuat radar bukan orang Indonesia seperti yang berkembang di benaknya.

"Itu cinta enggak juga padam, hingga saya bertekad untuk mendaftar pada jurusan aeronautika di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Namun, kenyataan berkehendak lain, saya diterima pada jurusan elektronika di Jepang," kata Josh dengan senyum yang tak pernah hilang.

Belajar di Jepang tidak mudah. Ia merupakan kandidat terpilih dari 25 ribu orang yang mendaftar untuk mendapatkan beasiswa.

Gegar budaya sempat menyiksanya, membaca huruf kanji pun sulit baginya, hingga Josh sempat mengeluh untuk menyerah sebanyak lima kali.

Lagi-lagi rasa cinta dan malu yang tinggi membuat dirinya bangkit dan belajar sekuat tenaga untuk bisa berkontribusi pada umat manusia.

Selain itu, guna memuaskan minatnya akan radar, Josh tetap mencari mata kuliah yang berhubungan dengan radar sejak tingkat satu.

Ia akhirnya menemukan mata kuliah tersebut, yakni di laboratorium Prof Isamu Nagano yang mengembangkan radar bawah tanah dan sensor-sensor untuk ruang angkasa.

Karena itu, ia tetap bersemangat untuk meneruskan cita-citanya.

Ibu Pertiwi

Meskipun sudah 27 tahun bekerja di 'Negeri Matahari Terbit', Josh tetap tak pernah melupakan tanah kelahirannya.

Pria yang selalu memohon untuk tidak diumbar terlalu heboh perihal pencapaiannya itu menjadi profesor termuda di Chiba University, Jepang, sejak 2013.

Josh kini bekerja sebagai PNS asing di Center for Environmental Remote Sensing (CEReS) di perguruan tinggi yang sama.

Ia juga mengepalai laboratorium yang kerap dijadikan tempatnya beristirahat, makan, juga bekerja, yaitu Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL).

"Ada kerja sama pertukaran pelajar, hal ini supaya semakin kuat hubungan Indonesia dengan Jepang, pun dengan kesempatan sumber daya manusia Indonesia untuk terus terasah. Di laboratorium saya terdapat 21 mahasiswa, yang sepertiganya mahasiswa Indonesia," ujar profesor yang sudah memiliki 118 paten internasional itu.

JMRSL juga digunakan untuk pembuatan teknologi dan ilmu pengetahuan mengenai pengindraan jarak jauh menggunakan teknologi gelombang mikro (microwave), yaitu synthetic aperture radar (SAR), pesawat tanpa awak (drone/UAV), dan microsatellite yang leading di dunia.

"Demikian juga, guna merealisasikan cita-cita dan janji saya kepada ayah saya untuk membuat radar dan pesawat sendiri sejak saya berumur 4-5 tahun," ungkapnya.

Pria satu anak ini juga mendirikan yayasan dengan dana dari kantong pribadi.

Tujuannya ialah memberikan kesempatan kepada anak muda Indonesia yang ingin berkembang dan belajar dengan budaya Jepang yang terkenal disiplin.

Pinangan untuk berpindah kewarganegaraan sudah beberapa kali diterimanya.

Namun, Josh menolak dan ingin berkontribusi membangun negerinya.

Ia terus berusaha membuka kesempatan bagi mahasiswa Indonesia yang ingin belajar ke Jepang, membolak-balik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan kamus daerah, hingga membaca peta kuno sebagai upaya menjaga rasa cinta kepada Indonesia.

Teknologi radar yang diciptakan Josh sudah digunakan NASA dan ESA (European Space Agency).

Oleh NASA, teknologi temuannya itu digunakan untuk melakukan observasi di Planet Venus dan Mars.

Salah satu teknologi yang ia kembangkan sejak 2007 ialah Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR) yang dapat digunakan sebagai pertahanan maupun sebagai pembaca permukaan bumi, termasuk mendeteksi titik kebakaran hutan.

Biasanya gambaran ditangkap dengan radar vertikal dan horizontal, dengan hasil yang diterima kerap tidak sesuai kenyataan.

Karena itu, ia mengembangkan radar circular, yang bisa menangkap gambar benda baik bersifat horizontal maupun vertikal.

"CP SAR ini kelebihannya bisa tembus awan dan kabut sehingga bisa dioperasikan pada malam hari, juga menyelesaikan permasalahan akibat peluruhan ionosfer. Indonesia itu kaya loh, kita banyak masalahnya, tetapi juga menjadi kaya untuk teknologi pemecahan masalahnya," tuturnya dengan mata berbinar-binar dan senyum yang terus mengembang. (M-5)

Biodata

Nama : Josaphat Tetuko Sri Sumantyo
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 25 Juni 1970
Pendidikan :
2002-2005 S-3 di Universitas Chiba, Jepang
1997 S-2 di Universitas Chiba, Jepang
1995 S-1 di Universitas Kanazawa, Jepang, Jurusan Rekayasa Komputer dan Kelistrikan
1983-1986 SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah
Prestasi :
The Society of Instrument and Control Engineers (SICE) Remote Sensing
Division Award: Nasional Jepang
Best Support Award, The Institute of Electronics, Information and
Communication Engineers (IEICE): Internasional
Best Paper Award, The Institute of Electronics, Information and
Communication Engineers (IEICE): Internasional
Lembaga Prestasi Indonesia - Dunia (Leprid) No 105, Josaphat Tetuko Sri
Sumantyo, Penemu Radar Satelit Pengamatan Bumi Berbasis Microwave Remote
Sensing dan Mobile Satellite Communications, dan Pemilik Paten di 118
Negara, Jakarta, 15 Desember 2015: Nasional Indonesia
Lembaga Prestasi Indonesia - Dunia (Leprid) No 106, Josaphat Tetuko Sri
Sumantyo, Penemu Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar untuk Pesawat tanpa Awak, Pesawat Berawak, dan Microsatellite, Jakarta, 15 Desember 2015: Nasional Indonesia.

Komentar