Humaniora

Peluncur Satelit Karya Anak Bangsa

Sabtu, 1 August 2015 00:00 WIB Penulis: Heru Prasetyo

DOK PPIDELF.NET

KANDIDAT doktor di Technishe Universiteit Delft (TU Delft) Belanda Dwi Hartanto bersama tim berhasil meluncurkan Satellite Launch Vehicle (SLV) dari fasilitas tes roket dan alat tempur Ministerie van Defensie (Kementerian Pertahanan) Belanda pada 5 Juni 2015 pukul 12.00 waktu setempat.

Mereka berhasil membangun SLV dengan teknologi canggih yang diberi nama The Apogee Ranger V7s (TARAV7s) dengan dana dari Kementerian Pertahanan Belanda, Nationaal Lucht-en Ruimtevaartlaboratorium (Laboratorium Antariksa Nasional Belanda). Airbus Defense (divisi dari Airbus grup yang bergerak di bidang pertahanan dan produk serta jasa penerbangan), dan Dutch Space (sebuah perusahaan terbesar di Belanda dalam bidang aerospace), demikian dikutip dari laman Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rabu.

SLV merupakan roket yang digunakan untuk membawa muatan dari Bumi ke luar angkasa tersebut mampu untuk mengantarkan modul scientific orbital payload di orbit 347 km.

Roket ini merupakan rancangan roket jenis 3 tingkat yang menggunakan hybrid engine serta dilengkapi dengan sistem aerodinamik aktif dan sistem komputer serta kendali roket modern.

Menurut ilmuwan muda dari Yogyakarta, putra pasangan Bapak Chamdani dan Ibu Astri, salah satu dari sekian banyak inovasi yang dilakukan dalam desain ini adalah pengimplementasian sistem aerodinamika aktif, yang dikontrol oleh Stability Augmentation System (SAS) dan modul-modul Internal Measurement Unit (IMU).

Sistem aerodinamika aktif merupakan salah satu variabel paling penting dalam misi peluncuran ini karena tugasnya adalah menstabilkan, mengendalikan dan memaksimalkan trajectory (lintasan, red) dan apogee roket dengan menetralisir berbagai macam gangguan.

"Gangguan-gangguan itu misalnya perubahan arah angin yang masif dan tiba-tiba, perubahan dan keadaan lapisan-lapisan atmosfir, medan magnet dan ganguan-ganguan lain," terang Dwi.

Selain itu, lanjut Dwi, semua sistem sensor dan flight-modules roket dikendalikan oleh sebuah flight-module utama berbasis octa-core @3Ghz dengan realtime GadoGadoOS 64-bit sebagai otak di belakangnya.

Selain itu, roket TARAV7s ini juga memecahkan rekor pada kategori supersonic liftoff dan pencapaian titik jelajah apogee 23% lebih tinggi untuk jenis roket yang sama. Roket TARAV7s dengan diameter 310mm dilengkapi dengan mesin hybrid dan stabilisator aerodinamika aktif.

Dengan keberhasilan peluncuran roket ini, Dwi kembali diberi tugas untuk mengembangkan roket generasi selanjutnya untuk mengantarkan modul scientific orbital payload di Low Earth Orbit (LEO), yaitu sekitar 1.000 km.

Delfi-n3Xt
Selain itu, pada 2009, Dwi dan timnya juga berhasil mengembangkan dan mengorbitkan active nanosatellite generasi kedua di TU Delft yang diberi nama Delfi-n3Xt.

Teknologi dibalik active nano-satellite pertama di dunia ini kemudian menjadi barometer dan acuan desain standar teknologi active nano-satellite pada universitas-universitas di seluruh dunia.

Posisi Dwi Hartanto dalam rancang bangun teknologi dirgantara ini patut dicatat sebagai prestasi luar biasa, sebab riset bidang teknologi ini tergolong riset sensitif karena menyangkut rahasia kenegaraan dan intellectual property (IP), dan semua anggota timnya adalah orang Belanda, kecuali Dwi.

"Beberapa kali Profesor dan beberapa kolega dari Kementerian Pertahanan Belanda bercanda dengan saya agar berganti paspor saja, supaya memudahkan segala urusan, salah satunya adalah akses untuk keluar-masuk military test facility," kisah Dwi. (Ant/PPIDelft/L-1)

Komentar