Investigasi

Tanggul Raksasa Atasi Masalah Jakarta

Senin, 24 October 2016 07:59 WIB Penulis: Jonggi Manihuruk

Grafis/Seno

ANCAMAN banjir akibat meluapnya air laut ke daratan atau biasa disebut rob kerap menimbulkan kekhawatiran warga Ibu Kota. Tak jarang, walaupun hujan tidak turun, sebagian tempat di Jakarta Utara terendam air laut.

Wilayah yang menjadi langganan rob ialah kawasan pesisir pantai utara Jakarta. Rob yang menggenangi permukiman penduduk disebabkan dua hal, yaitu penurunanan permukaan tanah dan kenaikan permukaan air laut.

Eksplorasi air tanah secara jorjoran dan pembangunan gedung-gedung bertingkat menjadi penyebab utama permukaan tanah turun secara perlahan. Setiap tahun, angka penurunannya ada di kisaran 5-10 cm.

Di sisi lain, kenaikan permukaan air laut ikut menambah ketinggian luapan air yang menggenangi rumah-rumah warga. Dalam hal ini, pemanasan global menjadi pemicunya.

Setidaknya selama tiga dekade terakhir, warga yang tinggal di pesisir pantai utara Jakarta menjadi langganan banjir akibat rob. Wilayah yang paling memprihatinkan antara lain permukiman penduduk di kawasan Muara Baru.

Baik secara ekonomi maupun sosial, selama bertahun-tahun rob telah mendatangkan kerugian yang besar. Namun, kini, penderitaan masyarakat pesisir utara Jakarta tengah menjadi perhatian serius pemerintah. Sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi rob, sebuah tanggul raksasa (giant sea wall) sedang dibangun sepanjang garis pantai utara Jakarta.

“Pembangunan tanggul harus dilaksanakan agar persoalan banjir akibat rob bisa diatasi. Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kami komit ini menjadi no regret policy,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Tuty Kusumawati saat ditemui di kantornya, Rabu (19/10).

Dalam pembangunan tanggul raksasa itu ada lima investor yang terlibat. Kelima investor tersebut ialah pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Pemprov DKI, BUMN, BUMD, dan swasta.

Investor-investor tersebut membangun tanggul yang membentang dari wilayah Tangerang melewati garis pantai Jakarta Utara hingga Bekasi dengan panjang 120.276 meter. Dari total panjang tanggul itu, 62.632 meter dibangun di garis pantai (tanggul laut) dan sisanya 57.644 meter di muara sungai.

Untuk tanggul laut, kontribusi pemerintah pusat dan Pemprov DKI hanya sekitar 25%, selebihnya dikerjakan dan dibiayai swasta, BUMN, serta BUMD. Adapun pihak swasta, BUMN, dan BUMD yang terlibat membiayai pembangunan tanggul laut ialah perusahaan yang telah mengantongi izin mereklamasi pantai utara Jakarta.

Sembilan perusahaan yang terdiri atas swasta, BUMN, dan BUMD telah mendapat amanah untuk membuat pulau buatan melalui proses reklamasi. Perusahaan-perusahaan itu ialah PT Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), PT Pelabuhan Indonesia II, PT Manggala Krida Yudha, PT Pembangunan Jaya Ancol, PT Kapuk Naga Indah, PT Jaladri Eka Pasti, PT Taman Harapan Indah, PT Muara Wisesa Samudera, dan PT Jakarta Propertindo.

Spesifikasi tanggul
Pascapembangunan tanggul raksasa dipastikan rob tidak akan pernah lagi menggenangi permukiman warga. Pasalnya, tanggul dirancang dan didesain para ahli yang terlebih dahulu melakukan penelitian secara mendalam untuk menaklukkan rob di pesisir utara Jakarta.

Pembangunan tanggul pengaman pantai utara Jakarta mengacu pada rancangan yang dibuat Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“BBWSCC membuatdetail engineering design (DED). Pemprov DKI dan seluruh pihak yang terlibat membangun tanggul mengacu kepada DED tersebut,” terang Tuty. Semisal, tanggul yang dibangun dengan tipe potongan melintang sudah dapat dilihat di Muara Baru dan Kalibaru yang saat ini tengah dikerjakan.

Dari pengamatan di lapangan, sebagai penyangga utama, ditempatkan tiang-tiang pipa beton di sepanjang tanggul. Pelaksanaan pemancangan dilakukan dengan inner boring dengan menggunakan ponton.

Empat perusahaan jasa konstruksi ternama, yaitu PT Waskita Karya, PT Adhi Karya, PT Wijaya Karya, dan PT SAC Nusantara, memenangi tender pemancangan tiang pipa beton tanggul.

PT Waskita Karya dan PT Adhi Karya membentuk kerja sama operasi (KSO) dan telah merealisasikan pemasangan 52 batang pipa beton. Adapun KSO antara PT Wijaya Karya dan PT SAC Nusantara telah merampungkan pemancangan 92 batang pipa beton.

Setelah tanggul rampung, pada sisi atas akan terbangun permukaan datar tanggul selebar 5 meter dan berada beberapa meter di atas permukaan air laut. Area itu menjadi lebar tanggul yang memanjang dari wilayah Tangerang hingga Bekasi.

Menurut sketsa tanggul di Kalibaru, untuk nelayan akan disediakan dermaga dan akses tangga. Tidak hanya itu, di sepanjang tanggul juga akan tersedia lajur bersepeda.

Pemerintah pusat mengagendakan pembangunan tanggul yang dikerjakan dalam beberapa tahun anggaran multiyears contrac. Untuk tahun anggaran 2015-2018 dibagi dalam dua paket.

Paket pertama menelan biaya Rp379,435 miliar. Hingga 26 September 2016, dari 18,92% target pembangunan fisik tanggul, telah selesai dikerjakan sebesar 4,52%.

Pada paket kedua, biaya yang dibutuhkan ialah Rp405,766 miliar. Sejauh ini sudah dirampungkan 4,37% dari 14,11% target fisik tanggul.

“Bagian tanggul yang dikerjakan pemerintah pusat dibiayai APBN dan yang dibangun Pemprov DKI didanai APBD,” jelas Tuty.

Untuk bagian tanggul lainnya dibiayai tiap-tiap perusahaan swasta dan BUMN pemegang izin reklamasi.
Bentangan tanggul di garis pantai pesisir Jakarta tersebut dinamakan rencana A dan merupakan salah satu dari tiga rencana pembangunan tanggul di Teluk Jakarta. Nantinya akan dibangun dua tanggul yang masuk rencana B dan C.

Tanggul rencana B dan C dibangun melingkar ke arah laut dalam. Kombinasi antara tanggul rencana A, B, dan C akan membentuk dua kolam raksasa. Kolam tersebut akan dipergunakan sebagai tempat pengolahan dan penampungan air bersih.

Saat ini, pembangunan tanggul yang masuk rencana B dan C masih dalam bentuk konsep yang digodok di Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Bappenas. (Sru/T-1)

Komentar