Weekend

Jadi Relawan Bisa Bikin Ketagihan

Ahad, 20 September 2015 00:00 WIB Penulis: Suryani Wandari Putri Pertiwi

Dok Pribadi

Menurut Putri, relawan mempunyai posisi penting untuk membantu penyelesaian masalah sosial. Muda berjumpa Putri, pada Rabu (16/9), untuk mencari tahu perjuangannya mendirikan organisasi yang menghimpun para relawan itu. Ia mengajak anak muda Indonesia tak hanya mengeluh pada berbagai masalah di sekitarnya, tapi juga terjun langsung memberikan solusi dan merasakan sensasi seru ketika menjadi relawan.

Indonesia Volunteering Hub itu apa sih?
Indonesia Volunteering Hub (IVH) merupakan wadah pemberdayaan, komunikasi dan apresiasi terhadap relawan Indonesia. Selain itu, IVH juga bisa jadi pusat informasi kegiatan sosial kemasyarakatan yang membutuhkan relawan. Misi IVH ada empat, meningkatkan semangat kerelawanan pada masyarakat, meningkatkan kapabilitas relawan, menyatukan relawan-relawan yang ada di Indonesia, dan menghubungkan lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) atau komunitas dengan relawan.

Awal mula membentuk IVH?
Sebelumnya, saya memang suka menjadi relawan di berbagai kegiatan. Lalu pada 2013, saya mengikuti kegiatan Girls 20 Summit. Di acara tersebut, saya belajar tentang teknologi perempuan. Saat pulang, kami diharapkan membuat sesuatu bagi masyarakat yang bermanfaat. Saya sendiri kepikiran membentuk wadah untuk para relawan seperti saya. Akhirnya, bersama Cevi Agis, teman saya dari Universitas Indonesia, saya membentuk IVH. Pasalnya, posisi relawan itu penting guna untuk membantu penyelesaian masalah sosial.

Kegiatan relawan apa saja yang telah kamu ikuti?
Pengalamannya sih masih terhitung jari ya. Dulu aku pernah menjadi relawan di Gana Fajja Foundation yang bekerja mencari data sekolah di seluruh dunia. Yang paling baru ini setelah lulus September 2014 sampai sekarang, saya bekerja di Komisi Nasional (Komnas) Perempuan yang menerima berbagai pengaduan tentang kekerasan, pelecehan, dan sebagainya.

Lebih nyaman bekerja di Komnas Perempuan atau bekerja di IVH?
Kalau ditanya lebih nyaman yang mana, semuanya pasti nyaman karena sama-sama memberikan banyak manfaat bagi masyarakat untuk membantu menyelesaikan permasalahan mereka. Menjadi relawan di Komnas Perempuan hanya 1 sampai 3 kali dalam seminggu untuk menerima pengaduan korban kekerasan dan bertemu secara langsung. Sisanya, aku dedikasikan untuk IVH karena aku mempunyai tanggung jawab. Aku memang merasa lebih bernyawa berada di kegiatan sosial.

Sejak kapan kamu mulai terlibat di kegiatan sosial?
Saat sekolah SMP atau SMA, aku tidak pernah kepikiran untuk menjadi relawan, sama seperti teman-teman seumuranku yang masih senang main. Namun, semenjak saya masuk perkuliahan pada 2010, aku jadi lebih dewasa melihat realita. Saat kuliah, aku selalu dicekokin untuk melakukan tiga hal, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat itulah yang ingin aku lakukan.

Berapa anggota IVH dan apa saja yang dilakukan semua anggota IVH?
Relawan IVH baru ada 1 batch, waktu itu merekrut 45 volunteer yang tersebar di seluruh Indonesia. Karena IVH masih pendatang baru, mereka membantu kerja-kerja, seperti pencarian database untuk Nongovernment Organization (NGO), penulisan artikel, desain, pengembangan web, dan media sosial. Kerjanya bisa jarak jauh atau virtual. Aku pun biasa mengajar mata pelajaran dasar seperti matematika, bahasa inggris, dan lainnya di International Humanity Foundation, Cipinang, Jakarta Timur, yang memiliki ekonomi menengah ke bawah.

Dengan menjadi relawan di berbagai kegiatan apa tanggapanmu terhadap permasalahan yang ada di Indonesia?
Biasanya orang-orang lebih mudah untuk komplain atau mengadu, entah itu kepada lembaga atau media sosial. Menurutku, seharusnya mereka bisa melihat lebih dekat dengan terjun langsung. Kita bisa belajar dari hal kecil. Dengan itu pun, kita bisa lebih bersyukur karena masih banyak orang-orang yang punya masalah lebih berat daripada kita.

Susah enggak mengajak orang untuk bergabung di IVH mengingat jadi relawan berarti kerja tak dibayar?
Ya, bisa dibilang agak sulit juga karena anak-anak muda sekarang pasti punya kesibukan sendiri, apalagi tidak ada bayaran pula. Awalnya banyak ikutan, tapi di tengah jalan kadang ada yang enggak bisa ikut, bahkan sampai tidak aktif lagi. Menurutku, yang paling mahal ialah komitmen. Karena itu, saya pun selalu berusaha beri apresiasi yang terbaik bagi mereka.

Fasilitas apa saja yang kamu berikan agar tak semua relawan berguguran?
Ada berbagai fasilitas yang saya berikan, yaitu sertifikat, mengangkat profil mereka juga agar mudah bekerja di perusahaan, jejaring atau mitra yang lebih luas. Tentunya kekeluargaan selalu dibangun di antara kami, hingga ke depannya saya pun ingin ada pemberdayaan untuk para volunteer.

Harapannya?
IVH bisa meningkatkan minat masyarakat, khususnya anak muda yang 'mampu' untuk aktif kegiatan kesukarelawanan. Akhirnya, akan semakin banyak tangan yang membantu mengurangi atau bahkan menghapus permasalahan sosial yang ada yang ditangani NGO dan komunitas sosial.

Apa sih manfaat jadi relawan buat anak muda menurut kamu?
Anak muda bukan hanya menjadi generasi di masa depan, melainkan juga menjadi pemimpin di setiap harinya. Jadi relawan akan melatih keterampilan itu. Dengan berbuat baik pada orang lain, mereka akan otomatis melakukan perbaikan bagi dirinya sendiri. Dengan melihat Indonesia banyak masalah, mereka pun harus melakukan aksi nyata, bukan hanya mengadu. Jadi relawan bisa ketagihan lo. Bidangnya bisa dipilih sesuai dengan passion kamu. Kalau bisa, gabung di berbagai komunitas relawan. Sertifikat yang didapat dari kegiatan ini juga bisa melengkapi portofolio saat melamar pekerjaan juga lo!

Cara untuk ikut jadi relawan IVH?

caranya gampang tinggal follow Twitter kita di @IDVolunteering dan website di www.ivh.or.id. Nanti akan ada informasi pendaftaran dan banyak informasi lain dari komunitas atau pather lain. Jadi, tak mesti relawan saja, kami pun akan menyediakan informasi seperti lowongan pekerjaan.

Komentar