Internasional

Tanamkan kembali Patriotisme sejak Dini

Selasa, 13 December 2016 01:15 WIB Penulis: (VoANews/Ihs/I-2)

AP/KAZUHIKO YAMASHITA

SEKILAS Taman Kanak-kanak (TK) Tsukamoto tampak seperti sekolah pada umumnya di wilayah Jepang. Namun, TK itu ternyata memiliki kurikulum unik dan tidak lumrah, yaitu kurikulum yang mengingatkan para siswa terhadap cita-cita praperang Jepang. TK yang dikelola pihak swasta itu pernah dikunjungi Akie Abe, istri Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe. Ia memiliki misi untuk menanamkan patriotisme dalam diri siswa dengan memfokuskan mereka pada tradisi dan budaya Jepang.

Mulai pagi, anak-anak TK menyanyikan lagu kebangsaan di depan bendera Jepang. Secara bersama-sama, semua siswa wajib membaca Undang-Undang (UU) Kerajaan tentang Pendidikan dengan bahasa Jepang yang kaku. Undang-undang tersebut ditetapkan pada 1980 dengan tujuan memelihara masyarakat di bawah Kekaisaran Meiji. Dengan penanaman ajaran dan kebajikan Confucius, undang-undang itu mengandung pengabdian dan kesetiaan terhadap kaisar serta pengorbanan kepada negara.

“Menjadikan berbakti kepada orangtua Anda, kasih sayang kepada saudara-saudara Anda. Jika keadaan darurat, berani mempertaruhkan diri untuk negara,” ucap anak-anak TK yang berusia dari tiga tahun hingga lima tahun tersebut. Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia (PD) II, Amerika Serikat (AS) yang menduduki Jepang telah menghapuskan undang-undang tersebut. Negara adidaya itu memandangnya sebagai sumber ketaatan dan kekuatan moral yang membakar semangat militerisme Jepang.

“Apa yang menjadi tujuan kami ialah mendorong semangat patriotisme atau jepangisme dalam pendidikan, memperluas semangat Jepang di seluruh dunia, bukan nasionalisme. Ini benar-benar berbeda,” ujar Yasunori Kagoike, Kepala Sekolah TK Tsukamoto. Kegiatan di TK yang semua dindingnya berhiaskan potret keluarga kekaisaran Jepang tersebut turut dilengkapi dengan kegiatan budaya, termasuk belajar instrumen musik tradisional Jepang, seni bela diri, dan papan permainan. Para siswa rutin berkunjung ke pangkalan militer.

Kagoike meminta sekolah-sekolah lain turut mengadopsi kurikulum yang sama. Dengan begitu, semakin banyak anak di 'Negeri Sakura' yang siap melindungi bangsa mereka terhadap potensi ancaman dari negara lain. "Jika sebuah negara imperialis menyerang Jepang, kita perlu melawan. Untuk itu, merevisi Pasal 9 Undang-Undang Jepang diperlukan dan harus dilakukan sesegera mungkin," ujar Kagoike. Dalam Pasal 9 Undang-Undang Jepang yang dirancang AS untuk menghentikan perang memang terdapat larangan pemeliharaan angkatan bersenjata. Namun, meskipun begitu, militer Jepang yang disebut Pasukan Bela Diri memiliki lebih dari 200 ribu personel dan dilengkapi dengan senjata berteknologi tinggi.

Merevisi konstitusi ialah salah satu sasaran utama kebijakan Partai Demokrat Liberal yang mengusung Shinzo Abe. Pemerintahan Abe telah memberikan ruang seluas-luasnya agar peran militer lebih besar. TK Tsukamoto juga mengajari para siswa betapa penting melakukan perlawanan untuk menghadapi ancaman sebagai perlindungan diri dan keluarga mereka. “Penguatan (militer) Jepang akan mendapat kritik keras dari negara lain, tapi bukannya menarik diri, saya mengajari anak-anak bahwa pemerintah Jepang telah menunjukkan kemauan mereka dengan jelas sehingga Anda juga perlu bersuara dan maju serta mengatakan Anda ingin melindungi keluarga Anda,” ujar salah satu guru TK Tsukamoto, Chinami Kagoike. TK yang berada di Osaka tersebut merupakan cabang dari Nippon Kaigi (Konferensi Jepang), sebuah kelompok lobi nasionalis yang memiliki hubungan erat dengan PM Abe dan kabinetnya. Tahun depan TK tersebut berencana membuka sekolah dasar dengan Akie Abe sebagai pemimpin kehormatan. (VoANews/Ihs/I-2)

Komentar