Humaniora

Restorasi Gambut Tahun Pertama Fokus Pada Perencanaan

Senin, 19 December 2016 21:04 WIB Penulis: Richaldo Y.Hariandja

ANTARA FOTO/Saptono

BADAN Restorasi Gambut (BRG) masih berfokus pada pematangan rencana, pemetaan wilayah, dan percobaan di 4 kabupaten, dalam tahun pertama kerja mereka.

Adapun 4 kabupaten yang menjadi fokus restorasi adalah Pulang Pisau di Kalimantan Tengah, Meranti di Riau, serta Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin di Sumatera Selatan. Sementara untuk tahun kerja kedua, BRG berencana untuk mulai pembangunan fisik seperti sekat kanal serta sumur bor yang dapat menjadi cara mencegah gambut kering dan terbakar secara intensif.

"Idealnya, seluruh pembangunan fisik dilakukan setelah perencanaan yang matang. Kalau tidak, kita akan boros sumber daya dan waktu," ucap Kepala BRG Nazir Foead saat ditemui pada kunjungan lapangan dalam rangka Simposium Lahan Gambut Internasional, di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Senin(19/12).

Meskipun demikian, pembangunan sekat dan sumur bor skala kecil sudah dilakukan oleh BRG. Di Pulang Pisau, misalnya, ada 33 sekat skala kecil (tabat) dibangun di tahun ini. Sementara untuk tahun depan, direncanakan pembangunan 70 Sekat besar oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta 3.000 oleh BRG.

Salah satu kunci dalam pembuatan sekat, lanjut Nazir, berada dalam penyiapan masyarakat. "Kalau masyarakat tidak siap dan tidak kita beri pengertian, bisa dipastikan akan mereka jebol. Itu berdasarkan pengalaman saya dulu," imbuh Nazir.

Oleh karena itu, salah satu perencanan yang sedang dibangun BRG adalah penguatan masyarakat. Pasalnya, masyarakat akan menjadi pihak yang membangun dan memelihara sekat kanal yang menjadi kunci agar lahan gambut tidak kering. Sementara, untuk tahun kedua, BRG menargetkan restorasi 1 juta lahan gambut.

Dalam kunjungan di Pulang Pisau tersebut, diperlihatkan pula bagaimana masyarakat membangun sekat kanal menggunakan peralatan sederhana dari kayu gelam serta berkarung-karung tanah untuk menjaga muka air setinggi 40 centimeter dari permukaan tanah sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah nomor 57 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

Deputi Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan BRG Alue Dohong dalam kesempatan yang sama menyatakan pembangunan sekat kanal sederhana hanya memakan biaya Rp10 Juta. Salah satu kelebihan dari sekat tersebut adalah masyarakat yang menggunakan kanal sebagai jalur transportasi tetap dapat melewatinya karena diberikan celah.

Meskipun demikian, dikatakan Alue, pembangunan sekat kanal bergantung pada kondisi dari gambut setempat. "Kalau gambutnya dalam, kita tidak bisa membuat sekat compact, karena bisa lapuk kayunya jika terus menerus kena air," ucap dia.OL-2

Komentar