Humaniora

Perlindungan Keanekaragaman Hayati Masih Minim

Selasa, 31 January 2017 20:15 WIB Penulis: Richaldo Y.Hariandja

ANTARA/Dedhez Anggara

TINGKAT kehilangan keanekaragaman hayati Indonesia mengkhawatirkan. Setiap tahun semakin banyak jenis tumbuhan dan satwa menjadi langka dan terancam punah.

Hal tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar dalam sambutannya di Lokakarya Nasional bertajuk Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati untuk Sektor Kehutanan, Perikanan dan Akuakultur, Ketahanan Pangan dan Pertanian, dan Sektor Pariwisata, di Jakarta, Selasa (31/1).

Melalui sambutan yang dibacakan oleh Sekjen Kementerian LHK Bambang Hendroyono, Siti menyatakan penebangan atau pembakaran hutan, masuknya jenis asing invasif, pertanian intensif, pencemaran, eksploitasi yang berlebihan, dan perubahan iklim turut memberikan dampak pada keanekaragaman hayati, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Padahal, menurut data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2014, Indonesia memiliki 1.500 jenis alga, 80.000 jenis tumbuhan berspora, 595 jenis lumut kerak 2.197 jenis paku-pakuan, sekitar 30.000 – 40.000 jenis flora tumbuhan berbiji (15,5% dari total jumlah flora di dunia), 8.157 jenis fauna vertebrata, 1.900 jenis kupu kupu (10% dari jenis dunia). "Oleh karena itu perlu integrasi semua Kementerian dan Lembaga dalam menjaga dan membuat keanekaragaman hayati kita bermanfaat," ucap Bambang saat ditemui selepas acara.

Hal serupa dikatakan Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Medrilzam saat ditemui dalam kesempatan yang sama. Kata dia, berdasarkan hasil evaluasi atas dokumen Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) pertama yang disusun pada tahu 2003 untuk dijadikan acuan dalam menjaga dan mengelola keanekaraman hayati hingga 2020, ditemukan kurangnya dukungan politik terhadap keberlangsungan keanekaragaman hayati Indonesia.

"Contoh konkritnya jelas dana, berdasarkan hasil evaluasi kami dalam kawasan konservasi kita ada Gap US$13,5 per hektarenya," ucap dia.

Selain dukungan politik, Bappenas juga melihat terdapat kekurangan dalam sosialisasipemahaman, hingga kapasitas Sumber Daya Manusia dalam memahami isu Keanekaragaman Hayati. Begitu juga dengan masih minimnya dukungan dari pemangku kepentingan lain di luar pemerintahan yang dilihat masih kurang. OL-2

Komentar