Humaniora

20 Juta Euro dari UE untuk Gambut ASEAN

Jum'at, 3 March 2017 08:46 WIB Penulis: Richaldo Y Hariandja

ANTARA/FB Anggoro

LAHAN gambut merupakan kawasan terpenting dalam mencegah polusi asap.

Sekitar 90% polusi asap yang melintasi batas negara di wilayah Asia Tenggara (ASEAN) berasal dari kebakaran pada lahan yang bersifat basah tersebut.

Oleh karena itu, penanggulangan penyebab bencana kabut asap juga dilakukan lintas negara.

Bahkan, untuk melakukan pengelolaan lahan gambut di wilayah ASEAN, Uni Eropa menggelontorkan bantuan sebesar 20 juta euro.

Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk berbagai program yang dilaksanakan pihak penerima bantuan ataupun pemberi bantuan.

Berdasarkan data, luas lahan gambut di kawasan ASEAN mencapai 24,7 juta hektare dengan cadangan 65 juta ton karbon di dalamnya.

"Itu sebabnya kami memberikan bantuan ini yang juga menjadi salah satu cara untuk menahan laju perubahan iklim di kawasan ASEAN," kata Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk ASEAN Francisco Fontan Pardo saat memberikan sambutan dalam peluncuran kerja sama terbaru UE-ASEAN, di Jakarta, kemarin.

Menurut rencana, bantuan pendanaan yang berjumlah 20 juta euro tersebut akan dikucurkan selama tiga tahun hingga 2019.

Duta Besar Indonesia untuk ASEAN Rahmat Pramono mengatakan Indonesia akan sangat terbantu lewat kerja sama tersebut.

"Karena tidak hanya pendanaan. Ada program-program yang juga di-delivered dalam kerja sama ini. Seperti yang kita ketahui, peatland ini jadi salah satu penyebab dari isu (transboundary) haze," terangnya saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

Rahmat juga mengatakan pemerintah akan menunjuk badan-badan yang bertanggung jawab dalam mengaplikasikan kerja sama tersebut.

Kerja sama tidak hanya untuk lahan gambut, tetapi juga menyasar pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan ASEAN dengan total nilai kerja sama sebesar 10 juta euro.

Indonesia terbesar

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead dalam kesempatan terpisah menyatakan Indonesia memiliki lahan gambut terbesar di antara negara-negara ASEAN lainnya.

Oleh karena itu, dapat dipastikan, jika upaya merestorasi lahan gambut fokus, pendanaan akan banyak yang mengarah ke Indonesia.

"Selain (bantuan) 20 juta euro tersebut, Jerman lewat GIZ (lembaga kerja sama Jerman) yang ditunjuk sebagai implementator sudah menjanjikan (bantuan) 4 juta euro," terangnya.

Akan tetapi, lanjut Nazir, angka pasti bantuan untuk Indonesia dari kerja sama tersebut masih didiskusikan.

Sementara itu, program kerja samanya tengah disusun. Salah satu yang penting ialah pembangunan sekat kanal dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat di kawasan gambut.

Nazir juga mengatakan Indonesia tengah membangun komunikasi dengan Australia, Kanada, Denmark, dan Belanda yang menjanjikan akan membantu restorasi gambut di negeri ini.

Negara-negara lain yang akan menyusul memberi bantuan antara lain Norwegia, Uni Eropa, Jepang, Amerika, dan Inggris.

Kebakaran pada lahan gambut selama ini menjadi penyebab utama bencana kabut asap.

Kebakaran di lahan tersebut sulit dipadamkan.

(Ric/H-2)

Komentar