Internasional

Tetap Gencar Cari Dukungan Amendemen

Senin, 20 March 2017 02:30 WIB Penulis:

AFP/TURKISH PPRESIDENTIAL PRESS OFFICE/YASIN BULBU

BULAN depan tepatnya tanggal 16 April merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Turki.

Hari itu digelar referendum konstitusi di negara yang berada di kawasan Eurasia tersebut.

Pemungutan suara referendum yang menuai pro dan kontra itu akan menentukan arah peta politik Turki.

Hasil referendum sekaligus akan menjadi tonggak apakah Presiden Recep Tayyip Erdogan lebih luas menggenggam kekuasan Turki atau tidak.

Jika referendum dimenangkan suara setuju, konstitusi pun diamendemen. Dengan demikian, jabatan presiden dipertahankan, sedangkan jabatan perdana menteri dihapuskan.

Tidak hanya itu, presiden bakal memiliki kewenangan luas untuk mengembangkan ekonomi serta dapat mengambil keputusan tegas terkait persoalan keamanan nasional, termasuk upaya kudeta sebagaimana yang terjadi tahun lalu.

Dalam dua bulan terakhir, Erdogan gencar mengajak warga Turki untuk mendukung amendemen konstitusi.

Sasarannya tak semata warga Turki di dalam negeri, tetapi juga yang tersebar di negara Eropa.

Bertepatan dengan peringatan Perang Dunia I di Pelabuhan Aegean, Turki, kemarin, Erdogan kembali berkampanye soal referendum konstitusi.

Ia seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu demi suksesnya referendum amendemen konstitusi.

Di Aegean, tidak jauh dari lokasi bersejarah pasukan Ottoman Kesultanan Utsmaniyah memukul mundur pasukan sekutu pada 1915-1916, Erdogan kembali melontarkan kritik pedas terhadap negara Eropa.

Memang dalam dua pekan terakhir, sejumlah otoritas negara Eropa telah menyatakan penolakan atas kedatangan para menteri kabinet Erdogan yang bertujuan berkampanye di hadapan para diaspora Turki di negara-negara tersebut.

"Silakan mereka berupaya menghalangi. Apakah Jerman, Belanda, Austria, Swiss, Belgia, Denmark, atau negara mana pun, ketahuilah bahwa presiden kalian (Erdogan) berdiri teguh dan akan tetap bersikap teguh," ucap Erdogan di hadapan para pendukungnya.

Dengan kesuksesannya membangun perekonomian Turki dari keterpurukan, sebagian masyarakat mendukung langkah Erdogan.

Kelompok pro-Erdogan memandang amendemen konstitusi merupakan cara untuk menegakkan pilar stabilitas, membangun masyarakat muslim, dan kebanggaan nasionalisme.

Namun, kalangan oposisi menilai tindakan Erdogan sebagai jalan menuju gerbang kekuasaan yang otoriter.

Dari Ankara, tokoh oposisi utama, Kemal Kilicdaroglu, pun mengajak masyarakat Turki untuk memilih 'tidak' dalam referendum mendatang. (AFP/Deri Dahuri/J-4)

Komentar