Megapolitan

Khasiat Minyak yang Dijual Diragukan

Selasa, 21 March 2017 03:00 WIB Penulis:

MI/DEDE SUSIANTI

HAJI Ugan Fatony Mukhlis bin H Karom bin H Karim ialah sosok yang dihormati dalam urusan urut mengurut (pijat-memijat) di Desa Cimande.

Saat ini dia orang paling lama atau tertua dalam pengobatan patah tulang.

Berkat kemahirannya, dia sudah menjelajah beberapa negara, mulai menjadi relawan, mengobati korban bencana, hingga mengobati pasien dari keluarga kerajaan yang mengalami kecelakaan.

Pada Rabu (15/3) malam, Haji Ugan yang hampir berusia 67 tahun berbagi kisah selama menjadi tukang urut dan mengobati patah tulang.

Saat ini pasien rawat jalan yang datang ke rumahnya, di depan Pedepokan Silat Cimande, menggunakan kartu antrean. Satu hari dibatasi hanya untuk 35 orang.

Pada Rabu (15/3) malam, pasien rawat inap di rumahnya yang bercat kuning ada 10 orang.

Salah satunya manajer hotel ternama di kawasan Sentul yang mengalami kecelakaan.

Tulang lutut manajer tersebut keluar.

"Dia milih datang ke sini. Kalau dipasang pen nanti lututnya tidak bisa menekuk. Sekarang dia masih proses pengobatan," urai Ugan.

Baginya, mengobati orang dengan keahlian mengurut dan kekhasiatan balur bukan pekerjaan inti.

Pekerjaan utamanya tetap bertani meski dari mengurut dia bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan seluruh anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

"Kalau saya menjadikan urut atau balur sebagai penghasilan utama, sama saja mendoakan orang agar sakit. Saya diajari orangtua untuk berlatih dan bertani. Pekerjaan utama saya bertani. Saya ada lahan sendiri dan ada juga titipan pasien yang minta saya urus. Saya menanami padi, singkong dan jahe."

Balur (minyak urut), menurut warga Cimande, tidak diperjualbelikan.

Istilahnya tidak boleh dihargai dengan jumlah uang.

Jadi, kalau banyak dijual atau beredar, itu ulah beberapa pihak dan keaslian serta kekhasiatannya juga diragukan.

Balur dibuat dari kelapa nunggal (hijau) yang menghadap ke kiblat yang dicampur tebu kuning. Tebu tidak boleh dilangkahi atau dipegang perempuan yang masih mens.

Prosesnya, dari kelapa nunggal, minyak keletik dibuat, lalu dicampurkan air tebu bakar dan ditumbuk dengan menggunakan tangan.

Setelah ditumbuk, semua itu diembunkan sehabis isya hingga subuh. (DD/J-2)

Komentar